Jember- Sifat malu merupakan kurangnya rasa percaya diri seseorang di hadapan orang lain. Akan tetapi malu dalam perspektif Islam adalah malu karena telah melanggar aturan Allah SWT. Sementara pada era modern ini tidak sedikit orang salah dalam mendefinisikan malu. Melainkan malu pada sudut pandang tidak dapat mengikuti trend yang ada.
Lebih-lebih lagi menganggap sesuatu yang melanggar syariat sebagai hal yang wajar. Sebagai contoh pacaran dan berkata kotor. Para pemuda zaman sekarang tidak malu mengumbar aibnya sendiri di depan umum bahkan di dunia maya. Pasalnya bisa kita lihat sendiri di laman sosial media. Mereka berkompetisi meningkatkan citra mereka dengan mengumbar aurat, bersentuhan dengan lawan jenis (bukan mahram), dan berkata tidak sopan. Bahkan mengumbar aib saudara sendiri.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Hujurat:12)
Sebaliknya, konten yang berisi tentang kajian-kajian Agama Islam diabaikan dan dianggap tidak zaman. Tak hanya itu, berubahnya cara berpakaian pun dianggap hal biasa. Para muslimah memang tetap memakai jilbab namun menampilkan lekuk tubuh. Mereka lebih senang memakai jilbab ukuran kecil daripada sesuai syariat agama. Karena hal tersebut dianggap norak dan tidak kekinian.
Malu adalah fitrah seorah wanita. Bahkan pada zaman Nabi Musa datanglah perempuan dengan berjalan tertunduk demi menyampaikan amanah sang ayah kepada Nabi. Selain itu ketika berbicara pun sangat jelas dan detail tanpa mengayun-ayunkan intonasi serta tidak terbata-bata.
فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍۖ قَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ٢٥
Lalu, datanglah kepada Musa salah seorang dari keduanya itu sambil berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)-mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatanginya dan menceritakan kepadanya kisah (dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”(QS. Al-Qashash:25)
Salah satu pasangan yang tidak akan pernah terpisahkan adalah malu dan iman. Dengan adanya sifat terpuji tersebut maka kwalitas iman muslim bertambah. Seseorang yang enggan menanamkan hal tersebut dalam diri mereka maka akan rendah akhlaknya dan tidak dapat mengendalikan nafsu.
اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ
Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan ini kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna.” (HR. Al Hakim).
3 Sifat Malu
- Malu Terhadap Allah
Berdasarkan penelitian yang ada. Apabila seseorang memiliki rasa malu terhadap Allah maka akan bertambah keimanan dan ketakwaannya. Dengan demikian mencegah dari amal ma’ruf nahi munkar.
2. Malu Terhadap Terhadap Diri Sendiri
Jika seseorang memiliki sikap seperti ini maka hilanglah keberanian untuk melalukan maksiat. Meskipun hanya seorang diri. Karena telah tertanam dalam pikirannya bahwa malu sebagian dari iman.
3. Malu Terhadap Orang Lain
Rasa malu terhadap manusia mendorong seseorang untuk selalu menjaga pandangan seta tidak sanggup melakukan dosa kepada saudara sendiri. Walaupun hanya menggunjing. Oleh karena itu tali persaudaraan selalu erat dan silaturrahmi selalu terjaga.
Manfaat Sifat Malu
- Dapat Membuat keputusan Bijak
- Mencegah Sikap Impulsif
- Mudah Bersosialisasi
- Memicu Kreativitas Otak
- Dapat Menenangkan Orang Lain
- Menjadi Pendengar yang Baik
- Meningkatkan Kepekaan Terhadap Sekitar
Hikmah Sifat Malu dalam Perspektif Islam
- Mengutamakan Keimanan
- Mencegah Maksiat
- Lebih Dekat dengan Surga
Dengan demikian janganlah merasa minder atau insecure jika kita menanamkan rasa malu terhadap diri kita. Pasalnya Allah lebih menyukai para hambanya yang selalu menjaga akhlaknya. Karena malu merupakan pakaian paling indah bagi setiap muslim, dengan garis besar menuju kepada kebaikan. (Rb/*)









