Jember- Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari itu, mereka diajarkan untuk meneladani kisah Nabi Ismail As yang sarat dengan nilai keikhlasan lahir batin, ketaatan kepada Allah SWT, serta kesabaran dalam menghadapi segala macam cobaan. Nilai-nilai itulah yang hingga saat ini terus diajarkan, termasuk di lingkungan pesantren.
Sebelum itu, sudahkah kalian mengetahui asal-usul Nabi Ismail As? Beliau merupakan putra pertama Nabi Ibrahim As dan Siti Hajar. Lahir di Kanaan (Palestina) sekitar tahun 1794 sebelum Masehi.
Kehadiran Nabi Ismail menjadi wujud kebahagiaan yang sangat dinantikan oleh keluarga kecil nabi Ibrahim. Namun, di tengah kebahagiaannya, Allah SWT justru menguji keimanan mereka dengan ujian yang sangat berat. Melalui mimpi yang datang hingga tiga kali saat menjelang Idul Adha, yakni pada tanggal 8, 9, dan 10 dzulhijjah, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya. Sebagai orang tua, tentu hal ini menuntut keputusan yang amat sulit. Tetapi, dengan penuh keikhlasan nabi Ismail meminta ayahnya untuk tetap menjalankan perintah tersebut. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffat ayat 102 yang berbunyi:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Artinya: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Lalu, Nabi Ismail pun dibawa oleh sang ayah menuju jabal qurban. Sesampainya disana, ia dibaringkan dan ditutup matanya dengan sehelai kain putih. Ketika pisau hendak disembelihkan, malaikat Jibril datang dan menggantikannya dengan seekor kambing yang besar. Dari sinilah sejarah qurban bermula dan menjadi bagian dari syariat yang dijalankan oleh umat Islam hingga sekarang.
Dalam hal ini, Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember konsisten menjaga kelestarian nilai sejarah tersebut dengan tetap menjalankan tradisi qurban setiap Hari Raya Idul Adha. Momen ini menjadi sarana pendidikan bagi para santri untuk mempertebal ketaatan kepada Allah SWT, keikhlasan dalam bekerjasama, serta kesabaran dalam menghadapi segala urusan layaknya Nabi Ismail.
Momentum Idul Adha juga seringkali menjadi sarana pendidikan karakter. Sebab, pada saat itu seluruh santri bergotong royong dalam melakukan setiap rentetan kegiatan, mulai dari menyembelih hewan qurban, memotong daging, menyalurkannya kepada masyarakat sekitar, hingga mengolah daging tersebut. Dengan demikian, santri akan belajar arti pentingnya berbagi, peduli terhadap sesama, dan juga tolong menolong.
Melalui kisah Nabi Ismail As, para santri dapat memahami bahwa qurban bukan hanya sekedar menyembelih hewan, melainkan usaha menyingkirkan rasa malas, ego, dan hawa nafsu demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Harapannya, mereka mampu meneladani keikhlasan dan ketaatan Nabi Ismail, sehingga tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia dan dicintai Allah SWT. (Al/Qr)









