Home Terkini KHUTBATUL ARSY: Pentingnya Menanamkan Nilai Kesederhanaan Dalam Jiwa

KHUTBATUL ARSY: Pentingnya Menanamkan Nilai Kesederhanaan Dalam Jiwa

0
1148

Jember-Sederhana bukan berarti miskin akan tetapi menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sederhana bukan berarti menyiksa diri,” tutur KH. Izzat Fahd, M.Pd.I.

Jiwa kesederhanaan tidak hanya dinilai dari gaya hidup akan tetapi juga dari cara berfikir. Berpikir memecahkan segala problematika dengan melibatkan kesederhanaan dalam sikapnya. Dengan begitu setiap insan tidak akan bosan mengucapkan rasa syukur atas segala nikmat. 

Definisi dari hal tersebut bukan berarti pasif atau menerima begitu saja. Pada kenyataannya justru di dalamnya tercantum nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan, dan perjuangan. Buah dari nilai tersebut adalah kesyukuran atas segala sesuatu yang telah Allah limpahkan bagi para hamba-Nya.

Dalam momen Khutbatul Arsy di Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung Jember, Bapak Pimpinan Pondok, KH. Izzat Fahd, M.Pd.I pernah bertanya kepada para santri dan santriwati, “Apakah berlebihan dari Jember ke Kalimantan naik pesawat?”. Jawabannya tidak. Lalu beliau bertanya kembali, “Akan tetapi jika pergi ke Kalimantan jalan kaki, apakah termasuk dalam konteks sederhana?”. Jawabannya tidak.

Dari kisah tersebut dapat dijelaskan bahwa Jiwa Kesederhanaan tidak diukur dari segi materi saja akan tetapi juga diukur dari cara menyelesaikan suatu permasalahan. Jiwa yang seperti inilah yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Tentunya menanamkan nilai tersebut dapat menghindari rasa pamer dan meningkatkan fokus untuk tumbuh menjadi individu yang lebih baik. 

Baca Juga :  Kursus Sore: Meningkatkan Kecerdasan, Meneguhkan Keyakinan

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا(٢٩)

Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. Al- Isra’: 29)

Dikutip dari tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah bahwa Allah telah memberi petunjuk bagi orang beriman untuk menginfakkan sebagian hartanya dengan kadar kemampuan dan kebutuhan. “Janganlah kamu menahan tanganmu untuk berinfak di jalan kebaikan dan jangan pula berlebih-lebihan dalam berinfaq. Sehingga tidak tersisa sedikitpun harta di tanganmu. Karena itu akan membuatmu terhina di hadapan Allah dan para makhluk dan akan membuatmu menyesal karena telah menghabiskan harta. Sungguh Tuhanmu akan memuaskan rezeki sebagian manusia dan menyempitkan rezeki sebagian lainnya. Allah Maha Mengetahui kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya dan Maha Bijaksana dalam membagi rezeki”

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok suri tauladan baik bagi kita. Meskipun seorang pemimpin akan tetapi tetap tidak meninggalkan nilai kesederhanaan. Baik dari sandang maupun pangan. Beliau hanya mementingkan kepentingan umat. Padahal jika kita menguak lebih dalam lagi Khodijah merupakan saudagar yang sangat kaya raya. Namun Rasulullah tidak menggunakan hartanya untuk berfoya-foya. Akan tetapi menggunakannya untuk umat dan syiar Islam.

Baca Juga :  Wisuda Tahfidz: Menjaga Identitas Qur’aniy

۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ 

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-A’raf:31) 

Dalam istilah zaman sekarang, hidup sederhana dapat diterapkan menggunakan cara minimalis. Maksudnya adalah mengkonsumsi barang-barang sesuai kebutuhan bukan keinginan. Tanpa kita sadari ternyata hidup sederhana termasuk salah satu tameng korupsi. Pasalnya secara integritas sederhana adalah keterkaitan antara pikiran, hati nurani, ucapan, dan tindakan berdasarkan norma yang ada. Salah satu penyebab korupsi yaitu sifat tamak, rakus dan serakah. 

Cara Hidup Sederhana

  1. Melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan
  2. Menggunakan harta pribadi dengan pertimbangan yang matang
  3. Memenuhi kebutuhan hidup
  4. Menerapkan hidup sesuai dengan tingkat ekonomi yang dimiliki
  5. Tidak menjadikan keinginan sebagai kebutuhan
  6. Mampu mengatur keuangan dengan baik

Alhamdulillah dengan cara hidup demikian harapannya dapat meningkatkan mutu generasi bangsa. Sehingga mencapai bangsa yang maju dan bebas dari korupsi.

(Rb/*)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here