Jember- Haflah Takharruj tahun ini bukan sekadar momen penuh haru, dimana agenda ini adalah panggilan untuk melangkah lebih jauh. Dalam suasana khidmat dan penuh makna, Bapak Pimpinan Pondok, al-Ustadz KH. Izzat Fahd, M.Pd.I menyampaikan pesan yang menukik tajam ke hati para santri akhir: “Kembangkanlah kualitas literasimu!”
“Sekarang, kalian bukan sekadar santri. Kalian adalah duta-duta pondok di tengah masyarakat,” tegas KH. Izzat. Sebagai alumni, para wisudawan membawa nama pesantren, menjadi representasi nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan selama bertahun-tahun.
“Jadilah orang-orang yang terus belajar dan menebar kebaikan, karena itu bagian dari menolong agama Allah. Barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu!”
“يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ”
Dalam era digital yang sarat tantangan, KH. Izzat mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Segala ilmu akan menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan adab dan nilai.
“Iqra’ bukan hanya untuk dihafal, tapi untuk diamalkan. Literasi bukan hanya soal membaca, tapi memahami dan mengembangkan pengetahuan.” Beliau menyampaikan pentingnya 6 literasi dasar yang harus dikuasai santri masa kini:
- Literasi Baca Tulis
- Literasi Numerasi
- Literasi Sains
- Literasi Digital
- Literasi Finansial
- Literasi Budaya dan Kewarganegaraan
KH. Izzat mengingatkan bahwa negeri ini kaya akan sumber daya alam. Namun tanpa literasi yang kuat, kekayaan itu takkan membawa manfaat. “Bukan karena kita miskin sumber daya, tapi karena kita kurang literasi dalam mengelolanya. Usahakan dalam satu bulan, biasakan masuk ke toko buku. Karena bangsa yang tidak cinta buku, pelan-pelan akan kehilangan masa depannya.”
Beliau juga menekankan bahwa jika pesantren gagal membentengi santrinya dari kebodohan dan malas baca, maka misi dakwah Rasulullah belum benar-benar kita jalankan. Zaman ini bukan lagi tentang popularitas atau eksistensi semu. Tantangan ke depan membutuhkan generasi yang kuat secara intelektual dan spiritual.
“Sekarang bukan zamannya kita terlena dengan eksistensi, tapi berpikir dan bertindak untuk menghadapi tantangan zaman. Hancurnya sebuah bangsa hari ini bukan karena gedungnya dirusak, tapi karena generasi mudanya tak mencintai ilmu,” jelas beliau.
Dalam momen membanggakan ini, beberapa nama santri akhir terpilih sebagai wisudawan terbaik dengan predikat mumtaz:
- Najwa Khatamul Nisa
- Maziro Auna
- Muhammad Rofbail
- Muhammad Muzakki
Selamat atas capaian luar biasa ini. Semoga menjadi pelita dan motivasi bagi adik-adik kelas dan seluruh santri Indonesia. Dari Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, literasi dimulai. Untuk umat dan bangsa, perjuangan dilanjutkan. Semoga kita semua pejuang ilmu diberikan kekuatan dan keberkahan oleh Allah swt untuk terus mendidik generasi yang Islami. (*)








