Al-Ustadz H. Muhammad Imaduddin, M.H.I.: “Semuanya ini Li i’laa i Kalimatillaah!”

0
113

Jember- Kadang kita terlalu sibuk dengan acara, dengan persiapan yang panjang, dan lupa melihat maknanya. Sehingga sebuah kalimat sederhana datang mengingatkan: Semua ini bukanlah tentang acara, bukan tentang seberapa panjang persiapannya, bukan tentang siapa saja yang hadir, tapi tentang menghidupkan agama Allah.

Beberapa waktu berlalu, Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember telah menggelar dua agenda besar- peresmian masjid jami’ dan silaturahmi akbar yang mempertemukan santri, guru, dan alumni dari berbagai penjuru. Suasananya penuh hari dan semangat. Tapi bagi orang yang terlibat sejak awal, hal yang paling berkesan bukanlah kemeriahannya, melainkan perjalanan panjang sebelum semua itu terjadi.

Teringatlah sebuah renungan yang kerap disampaikan oleh wakil pengasuh pondok, Al-Ustadz H. Muhammad Imaduddin, M.H.I. yang menyejukkan hati.
“Buat apa sih kita capek-capek kayak gini? Buat apa nyiapin ini itu, butuh dana besar, tenaga besar, waktu besar?”
Ada sedikit jeda sebelum beliau melanjutkan,
“Semua ini cuma untuk satu hal- Li i’laa i Kalimaatillaah: gawe nguripi agomone gusti Allah.”

Kata-kata ini menjadi pengingat bagi siapapun yang mendengarnya. Bahwa semua kerja keras, walaupun terlihat sepele, punya arti besar di sisi Allah SWT. Di Pesantren, tidak ada yang namanya kecil kalau niatnya besar. Dari santri yang menyapu jalanan, yang menata kursi, hingga ustadz yang menyusun konsep acara- semuanya menjadi bagian dari perjuangan untuk menjaga cahaya agama agar tetap menyala.

Baca Juga :  Shalat Tarawih: Keutamaan, Tata Cara, dan Tips agar Tarawih Maksimal

Kini setelah acara selesai, kalimat itu menjadi semakin bermakna. Karena ternyata, menghidupkan agama Allah bukan hanya dihari besar, tapi di setiap detik menuju ke sana. Ia hidup dalam keringat, doa, sabar, dan ikhlasnya hati mereka yang bekerja tanpa pamrih.

Sebagaimana firman Allah SWT.

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ…

“Dan katakanlah (Muhammad), bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah 105)

Dari sini kita belajar, agama ini tidak akan hidup hanya dengan doa, tapi juga dengan kerja, cinta, dan pengorbanan di jalan-Nya. Karena setiap peluh yang menetes , setiap langkah yang diambil, jika diniatkan untuk Allah- semuanya akan bernilai kan ibadah.

Dan sebagaimana pesan Al-Ustadz Muhammad Imaduddin, seluruh perjuangan, seberat apapun itu, sejatinya memiliki satu tujuan: nguripi agomone gusti Allah. Itulah ruh yang membuat setiap kegiatan di pesantren bukan sekedar kegiatan, melainkan pengabdian. (Ns/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here