Jember- Islam merupakan agama yang memiliki banyak tokoh berpengaruh bagi perkembangan global. Bukan hanya kaum adam, wanita juga punya andil besar pada hal tersebut. Lubna de Cordoba, mungkin banyak dari kita yang kurang familiar dengan nama tersebut. Beliau merupakan seorang perempuan cerdas dari masa keemasan Andalusia. Lubna hadir sebagai bukti nyata bahwa perempuan pun bisa berkontribusi dalam peradaban.
Lubna lahir di Cordoba pada awal abad ke-10, diperkirakan sekitar tahun 920 sampai 930 M. Ia bukanlah seorang bangsawan, melainkan budak yang kemudian dibebaskan dan diangkat menjadi sekertaris khalifah al-Hakam II akibat kecerdasan dan keteguhan yang dimilikinya. Beliau mempunyai keahlian dalam berbagai bidang seperti matematika, sastra, kaligrafi, serta penerjemah dari bahasa Latin dan Yunani ke bahasa Arab. Ia berpengaruh besar dalam pengelolaan perpustakaan Cordoba yang sangat besar pada masa itu, serta di kenal sebagai guru bagi perempuan di Andalusia. Lubna di perkirakan wafat pada tahun 948 M.
Dengan pengusaan bahasa yang dimiliki, Lubna menerjemahkan banyak catatan penting yang kemudian memenuhi perpustakaan Cordoba -salah satu perpustakaan terbesar didunia pada masanya. Terlihatlah ilmu pengetahuan dalam islam tidak hanya berkembang di Timur tapi juga di negara Barat lewat Andalusia.
Tidak hanya sebatas penerjemah, Lubna dikenal sebagai ahli matematika dan sastra, ia juga menjadi pengajar bagi kaum wanita di Cordoba, yang mana hal ini menunjukan bahwa pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Sebagaimana sabda Rasulullah:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini menjelaskan bahwa yang wajib menuntut ilmu bukan hanya laki-laki, orang kaya, pejabat, ataupun orang-orang tertentu. Karena yang disebutkan adalah setiap muslim, berarti mencakup pria dan wanita baik anak-anak ataupun dewasa, kaya ataupun miskin.
Cerita Lubna ini menjadi bukti bahwa ilmu dapat mengangkat derajat seseorang. Dari budak menjadi sekertaris seorang khalifah yang mana dihormati di istana. Sangat cocok dengan firman Allah SWT:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
Artinya:
“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)
Dalam kehidupan pesantren, kisah Lubna de Cordoba ini menjadi inspirasi besar. Pesantren yang sejak dulu dikenal dengan tempat pendidikan agama, kini mulai membuka jalan untuk ilmu umum seperti sains dan teknologi. Sama seperti Lubna, santri di zaman ini dituntut agar memiliki sifat tanggap, tanggon dan trengginas. Sehingga mereka bukan hanya paham agama tapi juga dapat menghadapi setiap tantangan yang ada di era modern ini.
Di negara kita tercinta Indonesia, semangat ini ditampilkan dalam sistem pendidikan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Tidak hanya menekankan pendidikan agama, pesantren ini memberi ruang bagi para santrinya untuk menguasai ilmu umum. Dengan begitu, diharapkan santri dapat menjadikan Lubna sebagai teladan.
Akhirnya, Lubna de Cordoba adalah cerminan bahwa ilmu pengetahuan dapat membentuk pribadi unggul yang akan diingat sepanjang masa. Harapannya, santri dan santriwati Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember selalu semangat dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. (Ns/Qr)








