Jember- Di era modernisasi saat ini, santri memegang peran penting dalam menegakkan peradaban Islam. Perkembangan teknologi yang semakin canggih dan tantangan global yang tak dapat dihindari menuntut hadirnya generasi yang kuat secara spiritual, moral, dan intelektual sebagaimana yang tercermin dalam diri santri. Lantas, siapa sebenarnya santri?
Santri adalah seseorang yang menuntut ilmu di pesantren. Di sana, mereka tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga dibiasakan hidup sederhana, serta dilatih agar memiliki karakter yang unggul dan berakhlak mulia. Maka dari itu, menjadi santri berarti siap, siap untuk belajar, berjuang, dan memperbaiki diri setiap hari.
Selain belajar, santri juga berkewajiban untuk menjalankan ibadah. Bahkan di sela-sela kesibukannya, mereka harus menyempatkan waktu untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di sisi lain, kesederhanaan pesantren justru membiasakan mereka untuk hidup apa adanya, tidak berlebih-lebihan, serta lebih menghargai apa yang telah dimiliki. Nilai-nilai seperti inilah yang kemudian akan membentuk karakter yang tangguh, rendah hati, dan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam.
Berikut beberapa alasan mengapa santri memiliki peran penting dalam peradaban Islam, diantaranya adalah:
1.Mampu menjaga nilai-nilai spiritual
Santri dikenal memiliki nilai agama yang mendalam. Oleh karena itu, mereka dipercaya mampu menjaga cahaya Islam di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
2.Menjembatani pengetahuan masyarakat
Ilmu yang mereka peroleh dari pesantren tidak hanya untuk dipelajari, tetapi juga diamalkan. Maka, dengan menyebarkan ilmu yang dimiliki, santri dapat menjadi jembatan pengetahuan bagi masyarakat.
3.Menjadi uswah hasanah bagi masyarakat
Santri dibentuk dengan pendidikan akhlak dan adab sejak di pesantren. Hal ini membuat mereka mampu berperan sebagai teladan di tengah masyarakat dengan menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab.
Di samping itu, mayoritas pesantren zaman sekarang turut mengikuti dinamika global. Meskipun begitu, mereka tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman, seperti yang diterapkan dalam Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember.
Di sana, para santri diberi fasilitas agar tidak gagap teknologi, salah satunya melalui kursus komputer. Setiap minggu, mereka diajak untuk mempelajari cara menggunakan media digital dengan baik dan benar di ruangan yang telah disediakan. Dengan demikian, mereka mampu menyeimbangkan antara pendidikan, teknologi, dan nilai-nilai agama, sehingga siap menghadapi berbagai macam tantangan global.
Sejatinya, peradaban yang tangguh lahir dari akhlak yang kuat. Oleh sebab itu, santri menjadi harapan masa depan bangsa untuk membentuk generasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dengan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam. (Al/Qr)









