Jember- Di balik aktivitas keilmuan dan spiritual yang menjadi ruh utama kehidupan di pondok pesantren, terdapat satu kegiatan yang tak kalah penting: pembinaan bakat dan minat santri. Salah satu kegiatan unggulan yang kini tengah berkembang pesat di Pondok Pesantren Alumni Gontor tertua di Jawa Timur ini adalah klub menjahit bagi para santriwati.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar mengisi waktu luang, melainkan menjadi media untuk mengasah keterampilan hidup (life skill), menumbuhkan jiwa kreatif, serta membentuk karakter mandiri santriwati.
Dalam kegiatan menjahit, para santriwati diajarkan dari dasar—mengenal alat-alat jahit, membuat pola sederhana, hingga menjahit pakaian seperti rok, gamis, bahkan hijab. Menariknya, mereka juga dilatih menciptakan produk fashion dengan desain yang sesuai dengan nilai-nilai kesopanan dan syar’i.
“Awalnya saya tidak bisa menjahit sama sekali, tapi setelah ikut kelas menjahit, saya sudah tahu caranya membuat gamis sendiri. Rasanya bangga sekali,” ujar salah satu santriwati kelas 5 yang mengikuti kegiatan bakat minat ini.
Tak sedikit dari santriwati yang kemudian menjadikan keterampilan ini sebagai pintu menuju peluang usaha kecil. Beberapa bahkan mulai menerima pesanan sederhana dari lingkungan sekitar pondok, seperti membuat mukena, sarung bantal, atau tote bag yang unik dan fungsional.
Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung Jember juga mendukung kegiatan ini dengan menghadirkan pelatihan dari para alumni yang sudah sukses di bidang fashion muslimah. Dengan demikian, santriwati tidak hanya mendapat ilmu, tapi juga inspirasi nyata dari kakak-kakak mereka yang sudah berkiprah di dunia luar.
Pondok memberikan perhatian serius terhadap kegiatan ini dengan menyediakan ruang praktik menjahit yang nyaman, perlengkapan yang memadai, dan pembimbing yang profesional. Selain itu, hasil karya santriwati juga akan dipamerkan dalam event internal pesantren seperti bazar santri, atau acara wisuda.
Menjahit Masa Depan Merajut Kemandirian
Program ini sejalan dengan visi pesantren untuk mencetak generasi muslimah yang tidak hanya alim dan shalihah, tetapi juga mandiri dan produktif. Menjahit bukan sekadar keterampilan tangan, melainkan bentuk nyata dari pendidikan karakter berbasis karya.
Melalui benang dan kain, santriwati pondok ini tengah menjahit masa depan mereka—dengan kemandirian, kreativitas, dan semangat juang yang tinggi. Dari pondok, mereka tak hanya siap menjadi pendidik umat, tapi juga pelaku perubahan di tengah masyarakat. (*)









