Home Catatan Adab Santri Terhadap Guru dalam Dunia Pesantren

Adab Santri Terhadap Guru dalam Dunia Pesantren

0
33

Jember- Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia yang memiliki karakteristik unik. Bukan hanya sekolah, melainkan tempat pembentukan karakter melalui pembelajaran 24 jam dimana santri akan belajar dari setiap apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan sehari-hari.

Segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia tidak lepas dari ilmu, dan setiap ilmu Pasti memiliki adabnya masing-masing. Mulai dari makan, minum, tidur, belajar, hingga interaksi kepada orang tua dan guru, semua memiliki aturannya sendiri. Hal ini sejalan dengan prinsip ungkapan al-adabu fauqol ‘ilmi (adab ada di atas ilmu).

Dalam pendidikan Islam dan pesantren, adab adalah fondasi yang harus diutamakan, terutama adab kepada guru. Guru bukan hanya sekedar orang yang menyampaikan ilmu, melainkan juga seorang mursyid yang membentuk akhlak dan karakter murid. Beliau juga disetarakan sebagai orang tua kedua bagi anak. Karena itu, adab terhadap guru sangatlah penting dalam menuntut ilmu.

Dalam kitab klasik Ta’lim al-Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji, ada beberapa adab terhadap guru yang yang wajib diamalkan oleh murid, diantaranya:

Baca Juga :  Kun Fayakun: Semua Kehendak Allah Pasti Terjadi

1. Memuliakan guru

Islam adalah agama yang meninggikan derajat guru. Memuliakan guru adalah kunci untuk meraih kesuksesan, keberkahan, serta ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana sabda Rasullulah:

مَنْ أَكْرَمَ العَالِمَ فَقَدْ أَكْرَمَنِي

“Barang siapa memuliakan orang alim, maka ia memuliakan aku.”

Salah satu cara memuliakan guru adalah dengan menjaga nama baik beliau, menggunakan gelar atau panggilan hormat (Pak/Bu, Ustadz, Guru, Kyai, atau Doktor), serta menghormati keluarga dan orang-orang terdekat beliau.

2. Adab berjalan

Ketika berjalan bersama guru, janganlah mendahuluinya. Posisi jalan yang sopan adalah di samping beliau atau di belakangnya.

3. Adab bermajelis

Sebelum majelis dimulai, hendaklah seorang murid duduk dengan tenang dan tawadhu’. Hindari duduk yang dinilai menentang dan tidak sopan. Ketika guru mulai menjelaskan, simak dengan baik dan seksama. Jangan memotong perkataan beliau dan membuka obrolan lain tanpa izin guru.

4. Menerima didikan dengan lapang dada

Salah satu tujuan menuntut ilmu adalah membentuk karakter. Maka dari itu, apabila seorang guru menegur atau memberi nasihat dengan nada tegas, hendaknya seorang murid untuk bersabar. Teguran tersebut bukan karena benci, tapi bentuk kasih sayang seorang guru agar anak didiknya dapat tumbuh lebih baik.

Baca Juga :  KH. Izzat Fahd, M.Pd.I: "Belajarlah seperti Ibnu Hajar Al Asqalani"

5. Senantiasa mendoakan guru

Wujud rasa terima kasih terbaik seorang murid kepada gurunya adalah dengan menyelipkan nama-nama beliau dalam doa harian. Mendoakan kebaikan, kesehatan, kelancaran rezeki, serta keberkahan hidup bagi mereka.

Sejalan dengan ini, Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember berkomitmen untuk mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak karimah dengan menanamkan adab dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah membiasakan akhlak kepada guru sejak awal.

Dalam pendidikan Islam, guru bukan hanya orang yang bertugas menyampaikan ilmu, mereka adalah penjaga warisan nabi. Dengan memuliakan mereka, InsyaAllah ilmu yang didapat menjadi lebih berkah dan bermanfaat. (Ns/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here