Jember- Pesantren tidak hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter. Salah satu nilai yang diajarkan di pondok pesantren adalah nilai kesederhanaan. Bagi sebagian orang, hidup di pesantren mungkin terlihat terbatas dengan fasilitas yang tidak mewah. Namun dibalik itu semua, ada hikmah yang dapat membentuk kepribadian santri.
Di pesantren, kesederhanaan adalah bagian dari pendidikan karakter. Sesuai dengan panca jiwa pesantren, yaitu jiwa kesederhanaan, pondok mengajarkan santri-santrinya untuk hidup secukupnya, tidak berlebihan, dan mampu mengendalikan diri untuk mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Sesuai dengan tuntunan Allah dalam surah Al-Furqon ayat 67 yang menjelaskan terkait kesederhanaan.
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
Artinya:
“Dan orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.”
Tugas seorang santri adalah belajar dan beribadah. Dengan hidup sederhana, santri akan terbebas dari kecemasan akan tren-tren saat ini dan kemewahan sehingga mereka bisa lebih fokus pada tujuan utama tanpa terdistraksi dengan materi.
Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, kesederhanaan tidak diartikan sebagai kekurangan ataupun kemiskinan, melainkan sebuah kesiapan mental. Mulai dari cara berpakaian, menu lauk, hingga fasilitas yang fungsional adalah bentuk penerapan yang diajarkan pesantren.
Tidak ada sekat sosial yang membedakan antara santri dari keluarga kaya maupun sederhana. Di sini semuanya sama, menggunakan standar yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di alas yang sama. Secara tidak langsung, keadaan ini dapat menghilangkan sifat sombong karena materi tidak menjadi tolak ukur dalam pergaulan mereka.
Penerapan nilai ini juga melatih ketangguhan para santri. Hidup di pesantren memaksa mereka untuk menjadi pribadi yang tahan banting, tidak cengeng, mandiri, dan tidak mudah mengeluh karena mereka terbiasa mengurus keperluan pribadi dengan keterbatasan. Tak hanya itu, kesederhanaan juga menumbuhkan rasa syukur yang mendalam atas setiap nikmat yang diterima, sehingga mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu muncul dari kemewahan.
Kesederhanaan adalah jiwa yang ditanamkan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember kepada santri sebagai bekal ketika mereka terjun ke masyarakat. Dengan penerapan ini, semoga santri dapat mengendalikan diri dari gaya hidup hedonisme dan konsumerisme serta menjadi pribadi yang bijaksana. (Ns/Qr)









