Mengapa Ilmu Harus Disertai Akhlak? Pesan Penting dari Pesantren

    0
    3

    Jember- Banyak dari kita yang pernah mendengar nasihat bijak dari para guru bahwa ilmu itu penting, tetapi adab jauh lebih utama. Kaidah Bahasa Arab yang sangat populer menegaskan hal ini:

    ” الادب فوق العلم “

    “Al-adabu fauqal ‘ilmi”Adab (etika dan akhlak) itu berada di atas ilmu.

    Nasihat ini telah menjadi prinsip utama yang mengalir deras dalam kehidupan para santri di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Bahkan sejak santri baru menetap di asrama, hal pertama yang ditanamkan bukanlah materi pelajaran formal, melainkan etika berinteraksi: bagaimana bersikap santun kepada teman sebaya, menghormati kakak kelas, menghargai pengurus, hingga memuliakan para guru.

    Hubungan Antara Ilmu dan Akhlak

    Ilmu dan adab bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang tidak boleh dipisahkan.

    Guru-guru di pesantren selalu mengingatkan pesan bijak lewat filosofi padi: semakin berisi, semakin merunduk. Nasihat ini mengajarkan manusia agar terhindar dari bahaya kesombongan akibat tingginya pengetahuan yang dimiliki.

    Baca Juga :  SYAFAHI: Latih Mental Komunikasi dan Disiplin Belajar Santri

    Berdasarkan KBBI, ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian (tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya). Sedangkan adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, serta akhlak.

    Di era modern saat ini, masyarakat sering kali hanya mengejar prestasi akademik, sertifikat, dan gelar pendidikan tinggi. Keberhasilan seseorang kerap diukur hanya dari aspek formal, hingga tanpa sadar melupakan hal paling krusial: kemuliaan akhlak.

    Tantangan Pendidikan di Era Modern

    Realita saat ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa akhlak melahirkan banyak masalah sosial:

    • Krisis Etika: Maraknya oknum berpendidikan tinggi yang pandai bersilat lidah dan mengumbar janji manis demi kepentingan pribadi.

    • Degradasi Moral: Banyaknya kasus murid yang berani membentak atau menantang guru hanya karena menerima teguran mendidik.

    Meskipun metode pendidikan antar-generasi terus berkembang, sikap tidak menghormati guru yang telah membagikan ilmu berharga tentu tidak boleh dinormalisasikan. Pendidikan sejati tidak hanya melatih otak, tetapi juga membimbing hati.

    Pembentukan Karakter Santri di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember

    Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, para santri tidak hanya dituntut untuk mengejar nilai akademis demi ijazah. Pembentukan karakter dan mental menjadi prioritas yang dievaluasi secara berkala melalui pengawasan langsung para pengurus asrama.

    Baca Juga :  Pondok Selenggarakan Silaturahmi Akbar bersama Jenderal Polisi (Purn.) Drs. H. Badrodin Haiti

    Komitmen ini tecermin secara jelas dalam Motto Pondok Pesantren Baitul Arqom:

    1. Berbudi Tinggi

    2. Berbadan Sehat

    3. Berpengetahuan Luas

    4. Berpikiran Bebas

    Penempatan Berbudi Tinggi pada urutan pertama menegaskan bahwa akhlak adalah fondasi utama pendidikan sebelum pengetahuan luas dicapai. Sistem pendidikan pesantren dirancang untuk memperluas cakrawala berpikir santri tanpa melepaskan nilai-nilai etika Islam.

    Sebagaimana pesan Bapak Pimpinan Pondok Al-Ustadz KH. Izzat Fahd, M.PdI, “Pengetahuan itu sangat luas dan tak terbatas. Namun pengetahuan tersebut harus tetap dipandu oleh budi pekerti yang tinggi, agar setiap manusia paham untuk apa ia menuntut ilmu dan ke mana ilmu tersebut hendak diamalkan”. (Nd/Qr)

    PENDAFTARAN SANTRI BARU

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here