Waspada Istidraj: Ketika Maksiat Justru Memberi Kenikmatan

    0
    183

    Jember- Pernahkah kita melihat orang yang suka bermaksiat tapi hidupnya terlihat sangat mulus? Rezekinya lancar, usahanya sukses, segala hal terasa mudah untuk didapat, tapi jarang atau bahkan tidak melaksanakan shalat. Keadaan ini terkadang membuat seseorang merasa aman-aman saja. Namun, apakah benar ini suatu kenikmatan dari Allah? Dalam Islam, hal ini bukanlah hal yang lumrah karena bisa saja seseorang terjebak dalam istidraj.

    Sebenarnya apa yang dimaksud dengan istidraj?

    Dalam e-book Penghafal Al-Qur’an Tapi Maksiat karya Muhammad Asadullah, istidraj adalah salah satu azab dari Allah SWT yang tidak banyak disadari oleh manusia. Seseorang bisa memiliki harta melimpah, usaha lancar, serta kesehatan yang baik, namun sering melakukan maksiat dan jarang beribadah. Hal ini menyebabkan hati menjadi lalai sehingga tidak takut ataupun menyesal ketika berbuat dosa.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al-An’am ayat 44 yang berbunyi

    فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

    Baca Juga :  Perfotoan Kelas: Bukan Hanya Sekedar Acara Tahunan

    Artinya
    “Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”

    Ayat ini menjelaskan bahwa tidak semua kenikmatan yang Allah berikan selalu membawa keberkahan. Suatu kenikmatan apabila tidak diiringi dengan ketaatan pada Allah justru menyebabkan mudharat.

    Menurut artikel “Kenikmatan yang Menipu: Cara Mengenali dan Menghindari Istidraj” di website BAZNAS Kota Sukabumi, Istidraj memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya:

    1. Hidup terasa senang dan lancar
    2. Semakin jauh dari Allah dan sering berbuat maksiat
    3. Hati terasa mati
    4. Tidak menyesal ketika melakukan maksiat
    5. Terlena dengan kenikmatan dunia.

    Jika seseorang merasa mendapatkan kenikmatan, seharusnya itu dapat mendekatkannya kepada Allah SWT. Apabila kenikmatan itu justru membuat seseorang semakin lalai, maka perlu dilakukan intropeksi agar bisa kembali ke jalan yang benar.

    Pemahaman ini merupakan bagian dari pembelajaran di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tapi juga menanamkan nilai keimanan dan pembinaan akhlak kepada santri agar tetap taat kepada Allah. Sehingga santri paham, bahwa setiap kenikmatan yang didapat seharusnya tidak menjadikan seseorang lalai, tapi semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Semoga, Allah SWT selalu menjaga hati kita agar istiqomah dan taat serta dijauhkan dari istidraj. Aamiin. (Ns/Qr)

    Baca Juga :  KHUTBATUL ARSY : A Better Understanding to Make the Best Quality

    Referensi:
    1. Asadullah, Muhammad. (t.t.). Penghafal Al-Qur’an Tapi Maksiat (E-book).
    2. Khoirunisa. 2025. Kenikmatan yang Menipu: Cara Mengenali dan Menghindari Istidraj. BAZNAS Kota Sukabumi. https://kotasukabumi.baznas.go.id/berita/news-show/kenikmatan-yang-menipu-cara-mengenali-dan-menghindari-istidraj/26568

    PENDAFTARAN SANTRI BARU

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here