Home Catatan Ujian Dalam Kebaikan, Bentuk Tingkatan Iman

Ujian Dalam Kebaikan, Bentuk Tingkatan Iman

2
2143
amaliyah tadris
amaliyah tadris

Jember – Selama hidup manusia tidak akan lepas dari yang namanya ujian, baik godaan internal yang datang dari diri mereka sendiri atau godaan eksternal yang datang dari orang lain. Apalagi sebagai seorang muslim, kita tidak akan jauh dari suatu ujian. Alasannya tentu tidak lain untuk menguji kadar keimanan kita. 

Akan ada masanya keimanan manusia naik turun, karena Allah akan senantiasa menguji hamba-Nya. Keimanan tersebut tidak hanya berupa kesulitan, atau bencana. Akan tetapi keimanan tersebut juga diuji dengan kesenangan. Apakah dengan ujian kesenangan, kita masih mengingat Allah atau tidak.

Ujian yang akan menghampiri kita ini harus kita sikapi dengan kesabaran, kelapangan dada, niscaya setelah gelap terbitlah terang. Allah tidak akan memberikan ujian serta cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Oleh karena itu saat ini kita semua memiliki kunci bagaimana cara menghadapi ujian yang Allah berikan kepada kita.

Dalam sebuah kajian, disampaikan tentang ujian seorang hamba dan mengapa ia diuji. Biasanya, ujian terberat orang baik yaitu ujian yang datang dari dirinya sendiri. Tentunya untuk melewatinya, kita harus melawan setiap problem yang muncul, contoh kecilnya, malas, kurang disiplin, ragu terhadap diri sendiri. Akan tetapi kalau kita memiliki keinginan kuat untuk berubah, menyeru orang lain untuk lebih dekat lagi kepada Allah dan Al-Qur’an dengan berdakwah, menebarkan kebaikan, tentunya nanti akan mendapatkan banyak respon berbeda dari orang lain. Bahkan jika ada yang menentang pun, kita takkan takut.

Baca Juga :  JADILAH GURU! GURU DI SEGALA BIDANG

Saat seseorang hendak mengajak untuk berbuat baik pasti akan mendapati banyak gangguan, khususnya bagi orang yang meneruskan perjuangan nabi yaitu menyebarkan agama Allah. 

Dan sesungguhnya ulama itu mewariskan warisan Nabi. Lantas apa warisan nabi yang diwariskan kepada para ulama ?

وَ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوْرِثُ دِيْنَارًا وَ لاَ دِرْهَمًا

Sesungguhnya warisan para nabi itu bukan dinar atau dirham akan tetapi warisan berupa ilmu pengetahuan, agar dapat disebarluaskan kepada seluruh umat manusia. Tanpa adanya pengetahuan, alam ini akan berada dalam kungkungan kebodohan. Bukankah kita tidak mau hal tersebut terjadi di peradaban kita? Seharusnya kita banyak-banyak bersyukur atas salah satu nikmat Tuhan berupa ilmu ini.

Apabila kita menemukan seorang alim ulama yang mengajarkan ilmu pengetahuan akan tetapi tidak memiliki perspektif tentang duniawi, maka itulah yang dimaksud warisan dari para nabi, tidak bertolak ukur pada upah, atau tarif. Orang-orang yang seperti itu biasanya akan memperoleh banyak cibiran dan resiko yang sangat tinggi.

Terkadang ada beberapa orang yang punya kebiasaan buruk yang mana ketika mereka menemukan sebuah berita tidak baik, maka akan langsung diviralkan. Perlu kita ketahui bahwa broadcast semacam ini sudah ada sejak zaman jahiliyah dan ada juga pelakunya. Andaikan kita menemukan hal tersebut yang perlu kita lakukan yaitu tidak membalasnya, karena mencela yang tercela itu hanya akan membuang-buang energi.

Baca Juga :  Dahsyat & Epik! Arena Gembira 2023, Maha Karya dari Santri untuk Negeri 

Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, jika ada orang-orang yang berupaya mengotak-atik ayat Al-Qur’an untuk kepentingan pribadinya/mengolok-ngolok syari’at Islam. Dalam Al-Qur’an disebutkan jika kita tidak perlu menghiraukan hal itu, maka sebaiknya kita biarkan saja, dan kita tinggalkan saja. Apabila ada kontroversi tidak perlu diperpanjang. Pembahasan tersebut akan hilang dimakan waktu dan ditelan oleh banyak berita baik lain. 

Islam adalah agama yang indah, bahkan ketika seseorang mendapati penghinaan, Islam menyarankan agar mendoakan mereka yang menghina, sampai mereka sadar kalau apa yang mereka lakukan itu tidak benar. Kemudian ketika mereka meminta maaf Islam memerintahkan umat muslim untuk menerima maafnya, karena dalam Islam  sendiri dilarang hukumnya memutus tali silaturahmi, lalu Islam menyeru untuk menunjukkan kepada mereka jalan yang benar.

Saudara semuslim, sudah kita ketahui bagaimana indahnya Islam ketika memahami nilai dari sebuah ujian yang diberikan oleh Allah, oleh karena itu hendaknya kita mampu bersyukur atas ujian yang diberikan. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran, dan hidayah untuk kita semua sehingga dapat menjadi pribadi yang tangguh dan lebih baik lagi. (Ay/qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here