Toleransi sebagai Penjalin Ukhuwah Para Santri

0
305

Balung“Alma’hadu laa yanaamu”. Pondok tak pernah tidur, dimana segala macam aktivitas selalu berjalan mulai dari terbitnya matahari hingga tenggelamnya sang surya, bahkan sampai dini hari pun, pondok tak pernah tidur. Di dalam pondok, seluruh santri bergerak, seluruhnya berproses untuk menemukan jati dirinya masing-masing, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tak ada kata diam bermalas-malasan atau berpangku tangan.

Tinggal bersama dalam lingkungan Pondok Pesantren tentu banyak mengandung pelajaran berharga. Salah satunya adalah tentang persaudaraan. Awalnya, santri berkumpul dan bertatap muka, kemudian saling menyapa dan berkenalan antara satu dengan lainnya. Selanjutnya, terjalinlah komunikasi yang intens sehingga pada akhirnya mengenal karakter masing-masing yang notabene berbeda-beda. Tak berhenti sampai di situ, pengenalan karakter masing-masing individu yang berbeda-beda ini kemudian membentuk sifat untuk saling memahami satu sama lain, artinya, memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Inilah yang kemudian disebut sebagai toleransi. Santri sebenarnya pun memahami bahwa hidup dan berkumpul bersama-sama sungguh tak mudah, apalagi baru dikenal. Namun mereka akhirnya belajar memahami bahwa dengan toleransilah, hidup bersama menjadi lebih mudah dan bermakna. Dari sikap toleransi pula, mereka kemudian ‘bersaudara’, menjalin ukhuwah dengan sebaik mungkin.

“Bhinneka Tunggal Ika” mungkin banyak disemboyankan dimana-mana, namun bagi mereka yang masih awam, tentu sangat sulit penerapannya. Bagi santri, pondok pesantren adalah salah satu tempat terbaik untuk belajar menerapakan semboyan tersebut. Sehingga mereka mampu berteman dengan siapa saja dan bersaudara dengan siapa saja, tanpa memandang ras, suku, daerah asal maupun sumber berbeda lainnya. Harapannya, dari sikap toleransi yang dipelajari, mereka mampu hidup secara harmonis ketika terjun di masyarakat luas. Karena pada kenyataannya, mereka tak hidup sendiri, namun hidup bersosial dengan orang lain. hlm.

Comments