Jember- Dibalik kesederhanaannya, kehidupan pesantren dikenal dengan jadwal kegiatan yang padat. Seluruh aktivitas santri tersusun rapi dan teratur, mulai dari bangun lebih awal, ibadah tepat waktu, hingga tertib masuk kelas. Pola inilah yang melatih mereka untuk hidup berdisiplin sebagai bekal penting dalam menghadapi kehidupan sosial.
Salah satu contohnya di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Seluruh santri dianjurkan untuk bangun lebih awal agar dapat melaksanakan sholat tahajjud. Setelah itu, mereka melaksanakan sholat subuh berjama’ah dan dilanjutkan dengan mengaji bersama. Ketika matahari mulai terbit, para santri bersiap untuk sarapan dan berangkat ke kelas tepat waktu. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dari pukul 07.00 sampai 12.30.
Sepulang sekolah, mereka menuju masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah, kemudian makan siang. Pada pukul 13.30, santri kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti kursus sore hingga waktu sholat ashar tiba. Setelah itu, mereka sholat ashar, mandi, lalu kembali ke masjid untuk sholat maghrib. Kegiatan dilanjutkan dengan makan malam, sholat isya’, dan belajar wajib. Pada saat jarum jam menunjukkan pukul 21.30, seluruh santri diwajibkan kembali ke kamar untuk beristirahat.
Begitulah gambaran kegiatan sehari-hari santri di pesantren yang runtut dan teratur. Tanpa kita sadari, kebiasaan kecil ini mampu membentuk pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab, serta menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan mereka.
Di samping itu, santri juga diajarkan nilai kesederhanaan. Mereka dilatih untuk hidup apa adanya tanpa berlebih-lebihan. Contohnya dalam hal berpakaian, pesantren menetapkan standar berpakaian sederhana, tidak mencolok, dan tetap sopan. Kebiasaan ini menanamkan pemahaman bahwa kebahagiaan tidak diukur dari penampilan yang menarik atau materi yang melimpah, melainkan dari ketenangan hati dan rasa syukur.
Sejatinya, hidup sederhana merupakan bagian dari iman, sebagaimana disebutkan dalam potongan hadits riwayat Abu Umamah, no. 4161.
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا عِنْدَهُ الدُّنْيَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا تَسْمَعُونَ؟ أَلَا تَسْمَعُونَ؟ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ
Artinya: “Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya hidup sederhana (dalam berpakaian/penampilan) itu bagian dari iman, sesungguhnya hidup sederhana itu bagian dari iman.”
Selain kesederhanaan, santri juga diajarkan nilai kemandirian. Dalam kehidupan yang semakin beranjak dewasa, kemandirian menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pesantren mendidik para santri untuk hidup mandiri, dimulai dari hal-hal sederhana seperti mencuci pakaian, menyiapkan makanan, dan menghadapi segala permasalahan-permasalahan kecil yang biasanya timbul dari pertemanan.
Dengan demikian, pesantren diharapkan mampu melahirkan santri yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan bersikap sederhana, sehingga terbentuk generasi berkarakter unggul yang siap terjun di masyarakat dan menghadapi tantangan di masa depan. (Al/Qr)









