Home Catatan Psikologi Perempuan dalam Al-Qur’an

Psikologi Perempuan dalam Al-Qur’an

0
430

Jember- Karena lebih peka terhadap perasaan, perempuan sering dibilang alay, lebay, ataupun baperan. Sedikit kepikiran dibilang drama, cepet tersentuh dianggap berlebihan. Padahal, sering kali masalahnya bukan karena perempuan terlalu emosional, tapi kepekaan itu yang masih belum bisa dipahami. Sensitif bukan tanda lemah. Itu hanya cara batin merespons dunia lebih dalam dan menyeluruh.

Menurut psikologi dan neuroscience, perempuan memang cenderung peka terhadap emosi, cepat membawa suasana dan mudah berempati. Hal ini berhubungan dengan cara kerja otak terutama dibagian pengatur emosi-limbic system. Biasanya, perasaan dan pikiran pada perempuan saling terhubung dengan cepat. Jadi bukan berarti cara pikir mereka kurang logis, tapi mereka lebih cepat merasakan dan memahami emosi yang ada.

Kepekaan emosional pada perempuan terbentuk dari beberapa faktor, yaitu:
1. Biologis
Sistem emosi perempuan lebih cepat merespon dan sangat berkaitan dengan empati
2. Pengalaman
Dari kecil, perempuan sering dibiasakan peka akan perasaan dan relasi.
3. Sosial
Kepekaan dapat membantu membangun kedekatan, tapi juga bisa melelahkan jika tidak dikelola dengan benar.

Lalu bagaimana dengan pandangan Al-Qur’an terhadap kepekaan hati?

Al-Quran memandang kepekaan adalah bagian dari diri manusia. Allah tidak menilai seseorang dari keras atau dinginnya emosi, melainkan dari hati, bagaimana hati seseorang mampu sadar dan merespons kebenaran dengan baik. Dengan begitu, peka bukanlah aib, ia adalah fitrah yang menandakan bahwa hati tidak mati terhadap nilai, rasa dan makna.

Baca Juga :  KHUTBAH JUMAT: Meneladani Sifat Nabi dengan Datangnya Bulan Rabiul Awal

Kalau kata Al-Qur’an, perasaan bukan sesuatu yang bisa direndahkan, karena Allah menjadikannya sebagai dasar hubungan manusia.

وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً

“Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum:21)

Ayat ini jadi pengingat bahwa yang menjadi dasar hubungan bukan keras atau dinginnya logika, tapi mawaddah dan rahmah (cinta dan kasih sayang). Dan semua itu cuma bisa hadir dari hati yang peka, yang mau paham dan peduli.

Di sinilah kepekaan perempuan menemukan maksudnya. Peka itu ngga cuma mudah tersentuh tapi kemampuan menjaga rasa dalam hubungan. Paham yang tidak selalu diucap, empati, menahan ego untuk kebaikan bersama. Walaupun sering tidak terlihat, tapi ini justru jadi penentu hubungan yang baik.

Sekarang ini, dunia seakan lebih suka sama orang yang kelihatan kuat dan cuek. Sampai-sampai peduli sedikit dibilang caper, mikir jauh dibilang ribet, padahal merekalah yang lebih sering menahan, mengalah, dan serius dalam menjaga perasaan orang lain.

Sebenarnya, psikologi dan Al-Qur’an sama-sama saling menguatkan, psikologi memandang kepekaan perempuan sebagai nilai yang terus berkembang: memahami emosi, membangun empati, dan merawat relasi. Sedangkan, Al-Qur’an melihatnya sebagai amanah untuk menjaga mawaddah dan rahmah. Dengan begitu, peka tidak cukup hanya dengan dirasakan, tapi perlu disadari dan dikelola agar menjadi kebaikan. Mungkin yang perlu diubah bukan perasaan perempuan, tapi bagaimana cara dunia memandang, karena di zaman sekarang ini, kepekaan hati adalah hal yang langka.

Baca Juga :  Hari Pahlawan: Sejarah Tanggal 10 November

Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember memfasilitasi seluruh santriwati dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat dan sesuai fitranya sebagai perempuan. Beberapa kegiatan tersebut diantaranya adalah seni musik, hadrah, tata boga, dan menjahit. Masing-masing santriwati diberi kebebasan berekspresi dan menyalurkan hobi maupun bakat minatnya. Semua fasilitas tersebut diselenggarakan untuk menunjang kemampuan soft skills dan hard skills untuk mempersiapkan masa depan para santriwati agar menjadi insan yang bukan hanya bermanfaat bagi lingkungan masyarakat, tapi juga punya nilai dan martabat serta berilmu dan berderajat. (Ns/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here