Jember- Ketika melihat hiruk-riuk pasar adalah hal yang biasa. Namun, apabila dipenuhi oleh pengunjung beserta para pedagangnya yang membludak bukanlah hal biasa. Menyambut datangnya Hari Raya, masyarakat Jawa memiliki salah satu tradisi yaitu ‘Prepekan’. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, mrepeg yang berarti terburu-buru, mendadak, urgent dan tergesa-gesa. Prepekan adalah tradisi berbelanja kebutuhan di pasar menjelang H-2/H-1 lebaran, sehingga menjadi kebiasaan tahunan yang turun-temurun. Maka, hal ini mencerminkan semangat masyarakat untuk melengkapi kebutuhan, mulai dari Sandang, pangan dan papan.
Ketika Prepekan terjadi, suasana pasar sangat padat dan sesak. Mengapa demikian? Karena semua pembeli berebut untuk membeli barang sebagai pasokan barang selama 2 hari lebaran, sebab pasar tidak akan buka selama 2 hari lebaran. Di samping itu, para pedagang pun senang karena tanpa menawarkan barang, dagangannya pun ludes habis terjual.
Tradisi Prepekan ini dapat meningkatkan omzet ekonomi yang sangat signifikan bagi pedagang, sehingga keuntungan menjadi berkali lipat daripada sebelumnya. Uniknya, pada saat ini seluruh jumlah barang meningkat, begitu pula dengan harganya. Herannya, masyarakat tetap rela mengantri dan berdesak untuk membeli berbagai kebutuhannya. Oleh karena itu, tradisi ini dapat meraup keuntungan yang sangat besar.
Prepekan tidak selalu membawa dampak positif. Dibalik semua itu terdapat beberapa dampak negatif yang terjadi, diantaranya adalah:
- Pemborosan
Euforia Prepekan seringkali menyebabkan seseorang lupa diri dan berlebihan. Akibatnya, banyak yang mengalami kesulitan perekonomian setelah lebaran. Untuk mengatasinya , sebaiknya kita hanya belanja barang yang dibutuhkan saja, tanpa membeli barang karena tren atau terbawa suasana.
2. Menambah Hutang
Tak sedikit dari seluruh penduduk Indonesia yang berhutang demi memenuhi segala kebutuhan lebaran. Baik untuk membeli bahan makanan atau pakaian. Sebenarnya untuk meminimalisir terjadinya hal tersebut, kita harus hemat dan tampil sederhana.
3. Kesenjangan Sosial
Prepekan dapat menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat. Bagi mereka yang berekonomi tinggi, hal tersebut tidak memberikan dampak sama sekali. Namun, bagi mereka yang memiliki perekonomian rendah, hal tersebut sangatlah membertakan. Seringkali masyarakat memilih untuk boros dan berhutang untuk memenuhinya, sehingga menimbulkan dampak negatif setelah lebaran.
4. Persaingan yang Tidak Sehat
Tak jarang, Prepekan menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Hal ini dipicu oleh penjual yang memanfaatkan kondisi dan suasana pasar. Di samping itu juga muncul pedagang musiman yang hanya berjualan ketika waktu ini datang, sehingga tidak tercipta lagi harga barang yang setara antar penjual.
5. Kriminalitas
Kondisi pasar yang ramai sering menjadi sasaran empuk para pelaku kriminalitas, contohnya pencuri dan pencopet. Seringkali mereka memanfaatkan pasar yang sesak untuk mengambil dompet, handphone, perhiasan, dll milik pembeli. Alhasil, kondisi yang demikian ini menjadi waktu rawan terjadinya berbagai kriminalitas.
6. Kemacetan
Akibat dari jumlah penjual dan pembeli yang meningkat secara signifikan, pastinya jumlah kendaraan bermotor pun meningkat pula. Alhasil, hal ini menimbulkan kemacetan parah di sekitar parkir maupun jalan menuju pasar, sehingga mengganggu akses jalan bagi pengguna jalan lainnya.
Prepekan memang menjadi sebuah tradisi yang tidak akan terlupakan setiap tahunnya. Meskipun peristiwa ini meningkatkan omzet ekonomi yang tinggi, namun juga menimbulkan berbagai dampak negatif. Untuk mengurangi terjadinya hal tersebut perlu bagi kita untuk selalu waspada dan hidup sederhana. Sebagaimana Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember mendidik para santri dan santriwati untuk selalu hidup sederhana dan bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. (Rb/*)








