Jember– Teko adalah salah satu peralatan rumah tangga yang sering digunakan sehari-hari. Terdiri dari beberapa bagian, yaitu tubuh utamanya yang digunakan untuk menampung cairan, pegangan untuk memudahkan saat dipegang, cerat untuk mengarahkan cairan ketika dituang, dan tutup untuk menjaga kebersihan dan suhu dalam teko. Tanpa pegangan teko akan susah dipegang, tanpa cerat air akan mudah tumpah, tanpa tutup air akan mudah dingin dan kotor. Dari sini terlihat bahwa setiap bagian memiliki fungsi masing-masing.
Jika dilihat-lihat, fungsi dari teko ini dapat menjadi cermin dalam kehidupan. Tubuh utama teko dapat diibaratkan hati dan otak manusia sebagai tempat menyimpan ilmu, iman, dan kebaikan, pegangan sebagai prinsip, cerat menggambarkan tindakan yang dilakukan untuk menyampaikan manfaat bagi orang lain, dan tutup sebagai self control untuk menjaga hati agar tidak dimasuki hal-hal yang dapat merusak niat.
Teko yang sehat akan terus menuangkan air pada gelas-gelas yang membutuhkan, tidak membiarkannya terlalu lama didalamnya hingga basi. Begitu juga manusia, sebaik-baik manusia adalah yang mau berbagi ilmu, kebaikan, dan rezeki kepada manusia yang lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.” (HR. Ahmad)
Teko juga mengajarkan akan pentingnya mengisi diri. Jika setelah habis teko tidak diisi lagi dengan air yang baru, maka teko akan kosong dan tidak dapat menuangkan kembali. Begitu pun manusia, tidak bisa memberi manfaat kepada orang lain apabila tidak mengisi hati dan otaknya dengan ilmu dan kebaikan. Karena itu, belajar dan ibadah adalah proses “mengisi teko” sebelum dituang ke orang lain.
Perumpamaan teko ini sangat relevan dengan gaya pendidikan di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Pendidikan di pondok layaknya membentuk santri menjadi teko yang sehat. Hati dan pikirannya diisi dengan ilmu agama, iman, akhlak, dan life skills, kemudian dituangkan kepada umat dengan adab yang mulia. Prinsip dan kedisiplinan di pondok menjadi pegangan, sementara pengawasan serta bimbingan para asatidz dan pembimbing adalah penutup dari pengaruh buruk.
Dengan begitu, santri lulusan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember diharap menjadi pribadi yang dapat mengisi dirinya dengan ilmu dan menjaga niat lillahi ta’ala dan siap memberi manfaat bagi masyarakat sebagaimana hadits Rasulullah. (Ns/Qr)









