Dzulqa’dah: Bulan Tenang yang Sarat Kisah dan Strategi Nabi

0
1197

Jember- Di antara deretan bulan hijriyah, Dzulqa’dah sering kali luput dari perhatian. Padahal, ia merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Di balik ketenangan namanya, Dzulqa’dah menyimpan kisah-kisah strategis Nabi Muhammad SAW, serta hikmah mendalam bagi umat Islam hingga hari ini.

Dzulqa’dah adalah bulan ke-11 dalam kalender Hijriyah. Bersama Muharram, Rajab, dan Dzulhijjah, ia tergolong sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan suci) yang dijaga kehormatannya. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk menghindari segala bentuk permusuhan dan memperbanyak amal saleh.

Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram…” (QS. At-Taubah: 36)

Dzulqa’dah bukan bulan perang. Namun menariknya, beberapa peristiwa besar dalam sejarah Islam justru terjadi di bulan ini, termasuk Perjanjian Hudaibiyah — salah satu titik balik strategis dalam dakwah Rasulullah SAW.

Pada tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah SAW bersama para sahabat berniat melaksanakan umrah ke Makkah. Mereka berangkat tanpa persenjataan perang, hanya niat ibadah. Namun kaum Quraisy menolak mereka masuk dan terjadilah negosiasi panjang. Akhirnya disepakati Perjanjian Hudaibiyah, yang sekilas merugikan umat Islam, tapi dalam jangka panjang justru menguntungkan dan membuka jalan menuju Fathu Makkah.

Baca Juga :  Miss College: Bentuk Santriwati Kreatif, Cerdas & Tangkas

Ini membuktikan bahwa dakwah tidak selalu identik dengan konfrontasi, tapi juga dengan strategi, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Bagi para santri dan muslim milenial, Dzulqa’dah mengajarkan banyak hal:

  • Menjaga lisan dan sikap di bulan-bulan haram sebagai bentuk adab kepada waktu yang Allah muliakan.
  • Mengambil pelajaran dari strategi Rasulullah SAW dalam menghadapi tekanan dan konflik: tidak selalu harus menang di depan mata, tapi fokus pada kemenangan jangka panjang.
  • Memanfaatkan waktu hening untuk evaluasi diri menjelang puncak musim haji di bulan Dzulhijjah.

Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung Jember, bulan Dzulqa’dah biasanya dimanfaatkan sebagai momen refleksi dan persiapan menyambut momentum ibadah haji dan Idul Adha. Kajian-kajian sejarah Islam, simulasi manasik haji, dan muhasabah diri menjadi kegiatan rutin yang mewarnai hari-hari santri. Dengan begitu, para santri tidak hanya memahami Dzulqa’dah sebagai nama bulan, tapi menyerap nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Dzulqa’dah bukan sekadar jembatan menuju bulan haji. Ia adalah simbol ketenangan yang penuh makna, saatnya jeda dari kegaduhan dunia untuk menyusun langkah menuju kebaikan. Di bulan ini, mari kita belajar dari Rasulullah: bagaimana berdakwah dengan sabar, menyusun strategi dengan hikmah, dan menjaga akhlak di atas segalanya. Mari hidupkan semangat Dzulqa’dah di hati dan amal kita. (*)

Baca Juga :  Bekerjasama Dengan Perhimpunan Ahli Orthopedi Indonesia, Pesantren Baitul Arqom Adakan Seminar Nasional Kesehatan
PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here