Jember- Pada hari Selasa, tanggal 27 Mei 2025 Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember mendapatkan kehormatan dengan kehadiran Dr. Zaid Cherif dari Universitas Ibnu Thufail, Maroko. Seorang cendekiawan Muslim yang dikenal luas dalam bidang tafsir dan dakwah. Dalam acara muhadhoroh ‘am atau kuliah umum ini, Dr. Zaid menyampaikan tentang Urgensi Membaca dan Memahami Al-Qur’an dalam Membentuk Karakter Generasi Muslim. Kegiatan ini dihadiri oleh bapak Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, KH. Izzat Fahd, M.Pd.I, Bapak Wakil Pengasuh dan seluruh asatidz dan ustadzat serta seluruh santri dan santriwati Madrasatul Mu’allimin dan Mu’allimat Al-Islamiyah (MMI/MMaI). Hal ini bertempat di Masjid Jami’ Baitul Arqom yang berada di Pondok Putra. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan penuh hikmah, beliau mengajak seluruh santri dan santriwati untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk hidup. Terutama, tafsir atau kandungan dari surah Al-Alaq ayat 1-5.
Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 adalah wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga ayat-ayat ini menjadi sebuah pondasi spiritual dan intelektual bagi umat Islam. Selanjutnya, Dr. Zaid Cherif memaparkan bahwa kelima ayat ini mengandung pesan besar tentang pentingnya ilmu, membaca, dan hubungan manusia dengan Allah sebagai Sang Pencipta.
Ayat-ayat ini tidak hanya memerintahkan untuk membaca, tetapi juga menekankan bahwa membaca harus dilakukan dengan menyebut nama Allah SWT. Hal ini adalah bentuk ibadah dan permulaan mengenai ilmu pengetahuan yang benar. Tak hanya itu, Dr. Zaid Cherif menjelaskan bahwa kalimat “Alladzi ‘allama bil qalam” menandakan pentingnya alat tulis dan dokumentasi sebagai sarana transmisi ilmu, sedangkan “‘allamal insaana ma lam ya’lam” menunjukkan bahwa semua pengetahuan sejatinya bersumber dari Allah SWT.
Salah satu poin pembahasan menarik yang diangkat oleh Dr. Zaid Cherif dalam muhadhoroh ini adalah alasan mengapa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang ummi atau tidak bisa membaca dan menulis. Menurut beliau, ini adalah bentuk hikmah ilahiyyah yang agung. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah yang ummi, maka tidak ada celah bagi musuh-musuh Islam dan orang kafir untuk menuduh bahwa Al-Qur’an adalah hasil karya Nabi Muhammad SAW. Namun sebaliknya, Al-Quran adalah penyempurna kitab-kitab terdahulu. Dengan status Nabi yang ummi, kebenaran wahyu menjadi makin kuat dan tidak terbantahkan.
Tak hanya itu, Dr. Zaid Cherif menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya sebatas melafalkan huruf-huruf Arab, tetapi juga mencakup pemahaman dan pengamalan isi kandungannya. Oleh karena itu, hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:
“من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة”
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Dr. Zaid Cherif mengaitkan hadis ini dengan ayat-ayat dalam surat Al-‘Alaq, menekankan bahwa membaca adalah pintu gerbang ilmu. Ketika seseorang mempelajari Al-Qur’an, memahami tafsirnya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka ia sedang menempuh jalan ilmu yang akan membawanya menuju surga.
Selain ibadah, membaca dan memahami Al-Qur’an memberikan berbagai manfaat yang luar biasa, diantaranya adalah:
- Membentuk karakter mulia: Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai seperti kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan.
- Menjadi petunjuk hidup: Dalam setiap aspek kehidupan, Al-Qur’an memberikan panduan yang relevan.
- Mendekatkan diri kepada Allah: Membaca Al-Qur’an dengan hati yang ikhlas adalah bentuk komunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
- Menentramkan jiwa: Bacaan Al-Quran membawa ketenangan dan menjadi penyejuk hati di tengah kegelisahan dunia.
Harapannya dengan adanya Muhadhoroh ‘am ini, semangat membaca dan memahami Al-Qur’an santri dan santriwati meningkat. Dengan demikian, dapat membentuk karakter muslim rahmatan lil Alamin.(Rb/*)








