Ibnu Sina: Cendekiawan Muslim yang Menginspirasi Santri Baitul Arqom

0
458
RAMADHAN & JARIYAH ABADI
RAMADHAN & JARIYAH ABADI

Jember- Kalau kita menyebut nama Ibnu Sina, mungkin yang langsung terbayang adalah sosok ilmuwan besar dalam dunia Islam. Tapi tahukah kita, bahwa Ibnu Sina bukan hanya seorang dokter atau filsuf, melainkan juga seorang tokoh sejati yang cintanya pada ilmu bisa jadi teladan bagi kita semua, khususnya bagi santri Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember.

Ibnu Sina, atau yang dalam dunia Barat dikenal dengan nama Avicenna, lahir pada tahun 980 M di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Uzbekistan. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan luar biasa pada ilmu. Umurnya baru belasan tahun, tapi sudah menguasai berbagai cabang ilmu seperti logika, matematika, kedokteran, bahkan filsafat. Hebatnya lagi, ia belajar tidak hanya dari buku, tapi juga langsung dari para guru dan ulama besar zamannya. Ini sangat mirip dengan kehidupan santri, seperti mengaji, musyawarah, dan ta’dzim kepada guru.

Menariknya, Ibnu Sina pernah berkata, “Aku tidak bisa tidur sebelum menyelesaikan satu persoalan yang mengganjal di pikiranku.” Ini menggambarkan betapa gigihnya dia dalam mencari ilmu. Seperti santri-santri Baitul Arqom Jember yang terbiasa belajar untuk muroja’ah hafalan atau menyimak kajian hingga malam. Semangat mencari ilmu yang tak kenal lelah ini adalah ruh dari sebuah pesantren.

Baca Juga :  KH. Masykur Abdul Mu’id, LML: “Sekali Hidup, Hiduplah yang Bermanfaat!”

Salah satu karya terbesar Ibnu Sina adalah Al-Qanun fi al-Tibb atau The Canon of Medicine. Kitab ini bukan hanya menjadi rujukan utama di dunia Islam, tapi juga digunakan di beberapa universitas Eropa hingga berabad-abad lamanya. Tapi bukan hanya soal kesehatan jasmani, Ibnu Sina juga dikenal sebagai filsuf besar yang membahas soal ruh, jiwa, dan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta. Dalam banyak tulisannya, ia selalu menekankan bahwa ilmu harus membawa manusia pada ketakwaan, bukan sekadar pintar.

Nah, di sinilah kita bisa melihat bagaimana nilai-nilai pesantren dan ajaran Ibnu Sina sangat beririsan. Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, para santri tidak hanya diajarkan fikih dan tauhid, tapi juga diajak untuk mencintai ilmu dalam semua aspeknya, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ada kelas-kelas diskusi, muhadhoroh, kajian ilmiah, praktek, hingga pelatihan keterampilan yang membuat santri tidak hanya cerdas dalam ilmu agama, tapi juga siap berkontribusi di tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember juga mendorong santrinya untuk memiliki cita-cita tinggi, layaknya Ibnu Sina yang tidak puas hanya jadi pelajar, tapi juga menjadi penulis, dokter, bahkan penasihat kerajaan. Artinya, menjadi santri bukan penghalang untuk jadi ilmuwan, dokter, guru besar, atau bahkan pemimpin umat. Justru pondok adalah tempat menempa diri dengan nilai-nilai keislaman dan keilmuan yang kuat.

Baca Juga :  SILATURAHMI AKBAR: KH. M. Akrim Mariyat Letakkan Batu Pertama Masjid Jami' Pondok

Kita tahu bahwa tantangan zaman sekarang semakin kompleks. Dunia digital, arus informasi, dan perkembangan sains yang begitu cepat bisa membuat kita terlena atau bahkan bingung. Tapi dengan menjadikan sosok seperti Ibnu Sina sebagai inspirasi, santri bisa tetap kokoh berdiri untuk menjunjung ilmu, berpegang pada iman, dan tetap rendah hati di tengah pencapaian.

Harapannya, kisah Ibnu Sina mengajarkan kita bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup. Bahwa setiap huruf yang kita pelajari, setiap kitab yang kita baca, dan setiap diskusi yang kita ikuti adalah bagian dari perjuangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tak hanya itu, dengan kisah ini semoga semoga santri dan santriwati Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember  terus hidup dari hari ke hari dari generasi ke generasi. (Rb/*)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here