Jember – Pada Senin pagi tanggal 26 Mei 2025 pukul 07.30 WIB langit Jember tampak cerah, seolah menyambut langkah-langkah kecil namun penuh semangat dari para santriwati kelas akhir Madrasatul Mu’allimat Al-Islamiyah. Dengan wajah penasaran dan hati yang berdebar, mereka menjalani Rihlah Iqtisodiyah di UD. Surabaya yang berada di Kabupaten Jember. Adapun jumlah peserta sebanyak 74 santriwati dengan didampingi 2 ustadzah.
Perjalanan usaha ini sudah bermula lama, akan tetapi masih belum menguasai pasar. Namun, alhamdulillah pada masa pandemi Covid-19, di tengah banyak orang hanya diam dan menunggu. Akan tetapi, tidak bagi pemilik UD. Surabaya. Dengan melihat kelangkaan masker medis saat itu dan banyaknya kain sisa yang ada, mereka berinisiatif membuat masker kain dua lapis. Awalnya hanya coba-coba. Namun tak disangka, masker buatan tangan mereka laris manis.
Dari pembuatan masker, berkembanglah usaha mereka, sehingga dapat menguasai pasar. Dengan demikian produk menjadi bertambah, seperti celana, baju, seragam sekolah, hingga almamater kampus. Kini, UD. Surabaya mampu memproduksi hingga 1.000 potong pakaian per hari. Namun, jalan tidak selalu mulus. Di hadapan santriwati kelas 6, sang pemilik bercerita dengan mata yang tampak menerawang tentang masa-masa paling kelam dalam perjalanan usahanya.
“Saya pernah ditipu. Seseorang datang, memesan produk dalam jumlah besar. Katanya, pembayarannya menyusul. Saya percaya, karena dia tampak seperti orang baik dan pernah pesan sebelumnya. Tapi ternyata, uang itu tak kunjung datang, sehingga kerugiannya sampai 100 juta,” tutur Pak Imron, sang pemilik usaha.
Namun alih-alih tumbang, pengalaman pahit itu menjadi pelajaran penting. Dari hal tersebut mereka tidak menyerah. Tak hanya itu, mereka juga belajar untuk menata ulang sistem, memperbaiki manajemen keuangan, dan menguatkan mental seluruh tim.
“Bisnis itu bukan hanya tentang keuntungan. Tapi juga tentang jatuh dan bangkit. Dan yang paling penting, jangan pernah berhenti belajar,” ucap Pak Imron.
Kisah ini bukan sekedar cerita tentang dunia usaha. Ini adalah cermin nyata dari nilai-nilai yang setiap hari diajarkan di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, seperti kerja keras, kejujuran, kesabaran, dan tawakal. Nilai-nilai yang kini para santriwati bisa melihat hasil wujud nyatanya.
Rihlah ini menjadi lebih dari sekadar kunjungan industri. Ini adalah momentum terbentuknya karakter kewirausahaan Islami. Para santriwati tidak hanya diajak memahami bagaimana produk dibuat dan dipasarkan, tapi juga bagaimana sebuah usaha dibangun dengan dasar etika dan nilai-nilai moral. Sebelum pulang, para santriwati diajak menelusuri setiap sudut ruang produksi, mulai dari pemotongan kain, proses penjahitan, finishing, hingga pengemasan. Semua dilakukan dengan sistematis. Kedisiplinan waktu, kebersihan tempat kerja, serta suasana kekeluargaan di antara karyawan menjadi kunci keberhasilan usaha tersebut.
Sama halnya di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, terdapat program minat bakat dalam bidang menjahit, sehingga santriwati dapat mengembangkan bakat desain dan menjahit. Lebih-lebih dengan adanya Rihlah Iqtisodiyah ini, bertambah wawasan dan kemampuan santriwati dalam bidang tersebut. (Rb/*)









