Jember- Diantara kesibukan rutinitas yang ada di pesantren, muwajjah malam menjadi salah satu program untuk menguatkan kedekatan santri dan asisten wali kelas. Muwajjah (موجه) berasal dari bahasa arab yang berarti “tatap muka”, ” dibimbing”, atau “terarah”. Dengan begitu muwajjah malam dapat diartikan sebagai kegiatan belajar malam yang khusus dirancang bagi santri agar dapat secara langsung berkonsultasi tentang pelajaran yang tidak dipahami, ataupun sebagai ajang evaluasi serta pemberian motivasi bagi mereka.
Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, muwajjah malam ini biasanya diadakan 4 kali dalam seminggu, yaitu hari Sabtu, Senin, Selasa, dan Rabu. Kegiatan ini berlangsung setelah shalat Isya’ sampai pukul 8 malam. Lokasinya cukup fleksibel, biasanya diadakan di dalam kelas masing-masing , tapi juga dilaksanakan di tempat-tempat lain diluar kelas seperti masjid dan gazebo.
Agenda ini merujuk pada kegiatan belajar mengajar diluar jam kelas. Dimana santri secara langsung akan dibimbing oleh asisten wali kelas masing-masing untuk meningkatkan kualitas intelektual mereka.
Fokus utamanya adalah menjalin interaksi secara langsung antara santri dengan asisten wali kelas. Santri bisa bertanya secara langsung, meminta penjelasan, dan berdiskusi tanpa ada rasa canggung. Dengan begitu, guru dapat mengetahui perkembangan anak didiknya secara individu, mengoreksinya segera, dan memberi motivasi yang sesuai.
Kegiatan ini menjadi program yang penting bagi santri. Mengapa demikian? Karena, setelah seharian melakukan aktivitas, santri diberi ruang untuk menyelesaikan tugas, mengulang pelajaran, hafalan, ataupun mempelajari materi baru dengan bimbingan guru melalui muwajjah malam.
Muwajjah ini juga mendidik santri untuk memahami sejauh mana kemampuan yang mereka miliki dalam hal belajar dan mengerti akan kelebihan serta kekurangan setiap individu. Bimbingan yang didapat oleh asisten wali kelas akan mempermudah mereka memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sehingga dapat memperbaiki strategi belajarnya.
Metode muwajjah ini memiliki keunggulan yang mana sifatnya tidak kaku, tidak terpaku pada kurikulum tertentu. Cara ini menyesuaikan kebutuhan santri. Para muwajjih bisa menggunakan berbagai metode dan pedekatan supaya santri lebih memahami materi. Sehingga mereka dapat menemukan gaya belajar yang sesuai dengan kemampuannya, entah melalui hafalan, praktik, ataupun diskusi.
Jadi, muwajjah di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember bukan hanya sebuah kegiatan tambahan dipesantren, tapi juga sistem bimbingan secara personal yang memadukan aspek akademik, karakter dan spiritual dalam satu ruang interaksi antara guru dan murid. Dan ia menjadi salah satu ciri khas pendidikan Pondok Pesantren yang membedakannya dengan lembaga lain. (Ns/Qr)









