Perempuan Mulia karena Iman: Pesan Moral dari Ibu Tejaningsih Haiti

0
796

Oleh Queen Rahmah Rizqi Zaidah
Wawancara eksklusif dalam rangka Silaturahmi Akbar Keluarga Besar Baitul Arqom Balung, Jember.

Jember- Di tengah kesibukan acara silaturahmi akbar Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung Jember, saya berkesempatan berbincang secara eksklusif dengan sosok perempuan yang jarang tampil di ruang publik, namun menyimpan keteduhan luar biasa: Ibu Tejaningsih Haiti, istri dari Jenderal Polisi (Purn.) Badrodin Haiti, mantan Kapolri Republik Indonesia.

Penampilannya sederhana dan bergitu anggun meskipun tanpa pernak pernik perhiasan yang menterang. Lembut tutur katanya, namun tegas dalam prinsip. Dalam perbincangan yang berlangsung sederhana dan hangat, beliau banyak berbicara tentang penguatan moral dan karakter perempuan, terutama melalui iman yang kokoh.

  1. Perempuan dan Nilai Kehormatan Diri

“Perempuan itu jangan mudah menampakkan perhiasan,” tutur beliau dengan nada prihatin.
“Karena itu bisa menjadi fitnah dan mengundang ketertarikan lawan jenis yang bukan mahram. Padahal, Allah memerintahkan kita menjaga diri sebaik-baiknya, agar menjadi perhiasan yang paling mahal dengan keshalihan kita.”

Menurut beliau, banyak perempuan hari ini yang berhijab, namun belum memahami makna hakiki dari kehormatan.

“Meskipun berhijab, kalau masih menonjolkan lekuk tubuh — itu sama saja. Saya sangat miris melihatnya,” lanjutnya pelan. Beliau menegaskan bahwa aurat bukan sekadar kain penutup, melainkan simbol perlindungan dan kemuliaan.

  1. Bekal untuk Rumah Tangga: Keterbukaan dan Komunikasi
Baca Juga :  PORSENI: Bakat Terasah, Kualitas Ukhuwah Islamiyah pun Terjaga

Pembicaraan berlanjut pada kehidupan berumah tangga. Dengan pengalaman dan kebijaksanaan seorang ibu, Ibu Tejaningsih Haiti menyampaikan nasihat yang seolah menjadi mutiara bagi para santriwati yang kelak akan berumah tangga.

“Kalau nanti sudah bersuami, agar rumah tangga bisa harmonis dan awet, kuncinya adalah keterbukaan,” ucapnya mantap.
Ia menjelaskan, keterbukaan bukan berarti menuntut pasangan untuk selalu bercerita segalanya, tetapi saling mengerti dan tahu kapan waktu yang tepat untuk bicara.
“Kalau ada perasaan yang tidak pas, sampaikan di waktu yang tenang, jangan saat sama-sama panas. Kalau sedang emosi, bukan makin rukun, tapi malah makin amburadul.”

Beliau juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah.
“Kalau kita terbuka, suami pun bisa tahu kesalahannya, dan tidak mengulanginya lagi. Begitu juga kita, tidak terus-menerus marah untuk hal yang suami bahkan tidak tahu sebabnya.

Nasihat yang sederhana, tapi terasa dalam. Bagi beliau, keharmonisan rumah tangga bukan hanya soal cinta, tapi tentang kesadaran untuk menjaga hati dengan komunikasi yang lembut dan penuh hikmah.

  1. Iman, Sumber Kekuatan di Tengah Zaman

Ketika ditanya tentang tantangan perempuan masa kini, Ibu Tejaningsih menjawab tanpa ragu, “Yang harus dikuatkan itu iman.”
Baginya, iman adalah pondasi utama yang menjaga perempuan tetap tegar meski dihantam gelombang masalah kehidupan.
“Kadang kita merasa jatuh, merasa down, tapi harus selalu ingat, ada Allah. Segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Kalau kita menggantungkan hati kepada Allah, maka seberat apapun ujian, kita bisa kuat, karena Allah yang menguatkan.”

Beliau menegaskan, perempuan masa kini perlu menumbuhkan hubungan spiritual yang baik dan dekat dengan Allah. Sebab, dari sanalah muncul ketenangan, kesabaran, dan kebijaksanaan, yaitu nilai yang tak bisa diberikan oleh dunia modern sekalipun.

Baca Juga :  Mondok: Belajar Perbedaan untuk Bersatu

Penutup: Perempuan yang Dihormati karena Imannya

Dari wawancara singkat itu, terasa bahwa Ibu Tejaningsih bukan hanya berbicara tentang moralitas, tapi tentang jati diri perempuan Muslim — yang tidak diukur dari penampilan luar, tapi dari keshalihan dan keteguhan iman di dalam hati.

Dalam era yang semakin bising oleh citra, gaya hidup, dan media sosial, pesan beliau seperti oase yang menyejukkan dengan kelembutan dan kesederhanaannya:

“Jadilah perempuan yang tidak mudah goyah. Bukan karena banyak yang memuji, tapi karena Allah yang ridha.”

Pesan sederhana, namun jika direnungkan dalam-dalam, mampu menuntun banyak hati untuk kembali kepada nilai-nilai fitrah yang mulai dilupakan — bahwa kehormatan perempuan bukan di mata manusia, tapi di sisi Allah. (Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here