Jember- Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha merupakan hari besar atau momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain menjadi waktu untuk beribadah dan berkumpul dengan keluarga, kedua hari raya ini juga diliputi dengan tradisi dan kebiasaan yang mengandung makna mendalam. Salah satu kebiasaan yang dianjurkan pada hari raya ini adalah keramas atau mencuci rambut. Hal tersebut termasuk Sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Mandi keramas sebelum sholat Idul Fitri dan Idul Adha dianjurkan untuk dilakukan pada waktu pagi hari, tepatnya setelah masuk waktu subuh
Syekh al-Baijuri menjelaskan bahwa sunah mandi keramas Idul Fitri bisa dimulai dari dini hari pada 1 Syawal.
Mandi Idul Adha bisa dilakukan mulai pertengahan malam pada 10 Dzulhijjah, tetapi yang utama dilakukan setelah masuk waktu subuh. Mandi yang dilakukan sebelum pertengahan malam tidak terhitung sebagai mandi Idul Adha.
Adapun tata cara mandi keramas untuk Idul Adha dan Idul Fitri memiliki beberapa kesamaan, yaitu:
- Membaca niat
- Membasuh tangan sebanyak tiga kali
- Berwudhu
- Mengguyur kepala
- Mengguyur seluruh tubuh
- Membilas tubuh hingga bersih
- Berwudhu kembali
Perbedaannya adalah pada cara membersihkan rambut:
- Pada hari raya Idul Adha, laki-laki dianjurkan menyela pangkal rambut.
- Pada hari raya Idul Fitri, laki-laki dan wanita dianjurkan memisahkan rambut dengan jari-jari tangan.
Selain itu, ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan saat mandi keramas untuk Idul Adha:
- Memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan
- Membersihkan bagian tubuh yang kotor, seperti kemaluan, dubur, area bawah ketiak, dan pusar
- Menggosok tubuh dari atas ke bawah, dari depan hingga belakang, dengan perulangan sebanyak tiga kali
Meskipun tidak ada kewajiban khusus dalam agama untuk melakukannya, ada beberapa alasan mengapa keramas dianjurkan pada kedua hari raya tersebut, yaitu:
- Melakukan Persiapan untuk Beribadah
Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, umat Muslim melaksanakan ibadah salat hari raya, yang menjadi puncak dari rangkaian ibadah. Mencuci rambut atau keramas dianggap sebagai bagian dari persiapan fisik untuk tampil bersih dan rapi saat melaksanakan salat. Dalam Islam, kebersihan merupakan sebagian dari iman, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim). Dengan keramas, seseorang tidak hanya membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Allah dalam keadaan suci dan bersih.
- Mengikuti Sunah Rasulullah SAW
Meskipun tidak ada kewajiban khusus, ada anjuran untuk melakukan beberapa kebiasaan baik menjelang hari raya, termasuk keramas. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menjaga kebersihan tubuh, termasuk mencuci rambut menjelang salat Idul Fitri. Dengan mengikuti sunah ini, umat Muslim tidak hanya menjaga kebersihan diri, tetapi juga mengikuti tradisi yang sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW, yang tentunya membawa berkah dan kebaikan.
- Menunjukkan Rasa Syukur dan Kegembiraan
Idul Fitri dan Idul Adha adalah hari yang penuh dengan rasa syukur dan kegembiraan. Setelah sebulan penuh berpuasa pada bulan Ramadan, atau setelah menunaikan ibadah haji bagi yang berkesempatan, umat Muslim merayakan hari raya dengan penuh kebahagiaan. Keramas sebelum hari raya dapat dianggap sebagai simbol kesiapan untuk menyambut kebahagiaan tersebut. Dengan tubuh yang bersih dan segar, seseorang merasa lebih percaya diri dan nyaman dalam berinteraksi dengan keluarga, tetangga, dan sesama umat Muslim. Hal ini menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
- Menghormati Momen Berharga dan Menghargai Diri Sendiri
Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah momen spesial yang hanya terjadi sekali dalam setahun. Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk menghormati momen tersebut dengan memperhatikan penampilan diri. Keramas atau mencuci rambut sebelum menghadiri salat hari raya menjadi salah satu cara untuk menjaga penampilan yang rapi dan sopan, serta menghargai diri sendiri. Ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap hari yang penuh berkah dan kesucian.
- Membersihkan Tubuh dari Kotoran dan Bau Tidak Sedap
Setelah beraktivitas sepanjang malam atau pada malam sebelumnya, tubuh seringkali terasa lelah dan kotor. Keramas pada hari raya membantu membersihkan kotoran dan bau yang menempel pada tubuh, sehingga seseorang dapat tampil segar dan wangi pada hari raya. Ini tidak hanya membuat diri merasa lebih nyaman, tetapi juga lebih menyenangkan bagi orang lain ketika berkumpul.
- Menjadi Tradisi yang Membangun Keterikatan Sosial
Keramas pada hari raya juga merupakan tradisi yang membangun hubungan sosial di antara umat Muslim. Ketika banyak orang melaksanakan kebiasaan ini menjelang hari raya, hal ini menjadi bagian dari cara umat Muslim saling menyambut dengan wajah yang bersih dan hati yang murni. Keramas menjadi simbol kesiapan untuk merayakan hari raya bersama keluarga dan masyarakat dengan penuh keceriaan dan kebersamaan.
Meskipun tidak ada kewajiban agama yang mengharuskan umat Muslim untuk keramas pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, kebiasaan ini dianjurkan karena memiliki berbagai manfaat, baik dari segi ibadah, kebersihan, maupun hubungan sosial. Keramas menjadi bagian dari salah satu persiapan fisik untuk menyambut hari raya dengan hati yang bersih dan tubuh yang segar. Melalui kebiasaan ini, umat Muslim tidak hanya menjaga kebersihan diri, tetapi juga menghormati momen-momen penting dalam kehidupan mereka sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. (R²M/Qr)









