Buku Sebagai Second Brain Manusia

0
193

Jember Di zaman modern yang serba cepat ini, manusia hidup ditengah arus globalisasi informasi. Disetiap harinya, ribuan data bahkan jutaan pengetahuan lahir dari berbagai sudut dunia. Salah satu tantangan terbesar manusia pada zaman ini terletak pada otak manusia yang memiliki keterbatasan dalam menyimpan dan mengelola informasi yang ada. Dari sini, buku hadir sebagai “second brain” atau otak kedua, yang mana dapat membantu menyimpan hal-hal penting agar tidak hilang dengan keterbatasan manusia. Dengan adanya buku, manusia bisa mengelola kembali pikirannya, mengingat kembali hal-hal penting, serta dapat mewariskan pengetahuan yang ada.

Sejak dulu, manusia mengabadikan pengetahuan melalui tulisannya. Al-Qur’an juga menjelaskan akan pentingnya membaca dalam wahyu pertama.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Al-Alaq: 1)
Ayat ini menekankan bahwa membaca merupakan jembatan ilmu, dan buku menjadi wasilah utama untuk membantu manusia agar selalu terhubung dengan pengetahuan disepanjang zaman.

Buku dapat diibaratkan sebagai media eksternal yang mampu menyimpan informasi lebih lama dari pada otak manusia. Otak manusia bisa lupa, tapi catatan akan terus ada. Rasulullah saw. bersabda:

Baca Juga :  Sambut Pengurus Pusat IKPM Gontor : Menuju 100 Tahun Gontor, 10 Pengasuh Alumni Gontor Kumpul Bersinergi

“قيِّدوا العِلمَ بالكِتابِ”

Artinya:
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Thabroni)
Hadits ini menjelaskan bahwa ilmu harus didokumentasikan agar tidak hilang begitu saja.

Selain sebagai tempat penyimpanan pengetahuan, buku juga digunakan menjadi alat menstimulasikan pikiran. Ketika membaca, manusia diajak untuk membandingkan, menganalisis dan menyimpulkan. Kegiatan ini membuat otak terlatih untuk berfikir kritis. Maka tidak heran jika buku disebut second brain karena membantu kerja otak agar lebih fokus dan produktif.

Di dunia pendidikan, buku menjadi penyangga utama dalam proses belajar. Santri misalnya, bukan hanya mendengar penjelasan yang diberikan oleh guru, tapi juga mengulas kembali lewat buku dan kitab. Buku menjadi jembatan antar ilmu yang diajarkan dengan pemahaman murid. Sehingga terdapat hubungan antara pengetahuan yang didengar dan ilmu yang tersimpan dalam tulisan.

Dalam tradisi pesantren khususnya Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, buku memiliki peran yang sangat penting karena menjadi sahabat santri dalam menuntut ilmu. Kitab-kitab warisan ulama terdahulu merupakan bukti nyata bahwa buku adalah pengikat ilmu. Dengan membaca, menulis serta mengkaji kitab, santri bukan hanya kuat dalam hafalan, tapi juga menanamkan pemahaman yang berguna sepanjang masa.

Baca Juga :  Tajdidun Niat, Menjaga Hati Agar Selalu Ikhlas di Pondok 

Dengan demikian, Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember berharap kepada seluruh santrinya agar menjadikan buku sebagai sahabat dalam memuntut ilmu. Dengan begitu, mereka akan mdnjadi generasi yang berilmu, berakhlak dan siap memberikan pengetahuan untuk keberkahan umat. (Ns/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here