Jember- Untuk membangun suatu bangunan yang dapat berdiri kokoh dan bertahan lama, dibutuhkan pondasi yang kuat. Tanpa ada pondasi yang layak, bangunan akan mudah runtuh ketika mendapat terpaan angin dan goncangan. Bukan hanya sebagai penompang, tapi juga menjadi dasar keamanan serta kestabilan dari seluruh bangunan. Semegah dan sebagus apapun desain suatu bangunan, apabila tidak memiliki pondasi yang memadai maka akan mudah roboh. Oleh karena itu, dalam suatu pembangunan, pondasi dibuat terlebih dahulu dengan perhitungan yang matang.
Begitu juga dengan kehidupan. Pondasi dapat diibaratkan sebagai niat. Dalam konteks agama, “nawaitu” bukan hanya sekedar ucapan pada lisan melainkan menjadi cerminan pada pikiran atau pola pikir yang mampu menggerakkan hati. Ketika membicarakan niat, berarti membicarakan tujuan yang ingin dicapai. Tanpa adanya niat yang benar, usaha yang dilakukan akan kehilangan makna, seperti kapal yang berlayar di lautan tanpa adanya arah tujuan.
“Kalo niatnya salah, al-Fatihahnya salah, kalo al-Fatihahnya salah, al-Waqi’ahnya salah,” tutur Bapak Wakil Pengasuh Pondok, Al-Ustadz H. Muhammad Imaduddin, M.H.I dalam tausiyahnya.
Niat adalah permulaan dari setiap amal. Jika dari awal niatnya keliru -diniatkan pamer atau sekedar rutinitas, maka makna dari sebuah amal akan rusak. Apabila dalam ibadah diniatkan kepada hal-hal selain untuk mendapat ridho Allah, maka nilai ibadah di sisi Allah akan hilang.
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.”
Dari sini terlihat bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harus memiliki niat yang benar.
Al-Fatihah adalah rukun sah shalat. Bukan hanya sekedar bacaan wajib, tapi juga cerminan isi hati seorang hamba ketika beribadah. Jika niatnya salah, maka hati tidak akan hadir ketika membaca Al-Qur’an. Maknanya tidak menyentuh dan ruh shalat akan hilang. Hingga shalat hanya menjadi “gerakan” tanpa adanya kekuatan spiritual. Dan dampaknya, shalat tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut: 45), melainkan hanya formalitas belaka.
Surah Al-Waqi’ah sering digunakan sebagai doa dan ikhtiar untuk memohon kelancaran rezeki. Namun, keberkahan rezeki bukan hanya didapat dengan membacanya, tapi juga dengan kondisi hati dan hubungan dengan Allah. Jika shalat yang dilaksanakan tidak benar, maka amalan tambahan seperti membaca Al-Waqi’ah hanya akan seperti menyiram tanaman yang akarnya telah membusuk. Tidak memberi pengaruh yang besar.
Niat yang lurus akan membentuk kebiasaan yang benar. Kebiasaan yang benar akan menjadikan ibadah berkualitas. Ibadah yang berkualitas akan membuka pintu doa yang mustajab. Doa yang mustajab dapat memanggil rezeki yang berkah.
Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, pendidikan diibaratkan sebagai bangunan yang kokoh. Niat adalah pondasinya, ibadah (Al-Fatihah) adalah tiangnya, ikhtiar dengan doa seperti membaca Al-Waqi’ah adalah atapnya. Santri dididik bahwa belajar bukan hanya sekedar untuk mencari prestasi, tapi untuk mendapat ridho Allah. Jika niatnya salah, maka ibadahnya tidak akan mendekatkan diri kepada Allah, jika ibadahnya lemah, maka ikhtiar dan doa pun tidak membawa keberkahan. Dengan niat, ibadah serta ikhtiar dan doa yang benar, maka akan membentuk pribadi santri yang berilmu, beradab serta membawa keberkahan bagi umat.
Dengan demikian, santri diharapkan dapat menjaga niat, memperbaiki ibadah serta menyertai ikhtiar dengan doa yang lurus, agar menjadi generasi yang berakhlakul karimah, berilmu luas dan bermanfaat bagi masyarakat. (Ns/*)









