Jember- Di setiap karya sang penyair kata-kata tidak hanya sekedar tuturan, tetapi banyak makna yang tersimpan. Lewat kata-kata indahnya mereka menafsirkan kehidupan, menceritakan perjuangan, bahkan mewakili harapan setiap orang.
Abu Nawas yang memiliki nama asli Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami adalah seorang penyair Arab klasik yang hidup pada zaman kekhalifahan Abbasiyah. Beliau lahir pada tahun 747 M. Setelah ayahnya meninggal, Abu Nawas dibawa oleh ibunya ke Basrah (salah satu kota di negara Irak). Disana beliau mempelajari beragam wawasan keagamaan, seperti ilmu Al-Qur’an, ilmu Hadist, dan Sastra Arab. Oleh karena ketekunannya, beliau mahir dalam menciptakan syair-syair atau kata-kata yang indah.
Pada awalnya Abu Nawas adalah seorang pemabuk berat dan suka berfoya-foya. Hal ini dapat dibuktikan melalui syair-syair ciptaannya yang menceritakan tentang minuman keras, wanita, dan percintaan. Pada kala itu syair-syairnya nyaris tak tertandingi. Meskipun dalam keadaan mabuk, beliau mampu menciptakan sebuah syair atau kata-kata yang begitu indah. Hingga pada suatu saat ketika Abu Nawas mendeklamasikan larik puisi tentang Kafilah Bani Mudhar, beliau mendapat hukuman karena menyebabkan Khalifah naik pitam. Disebabkan pesan yang tersirat di dalam puisi menyinggung perasaan Khalifah, sehingga beliau dipenjara.
Semenjak Abu Nawas di penjara, beliau bertaubat dan senantiasa memasrahkan diri kepada Allah SWT. Yang kemudian syair-syair yang beliau ciptakan berubah menjadi religius. Salah satu syair Abu Nawas yang biasa kita dengar adalah sebagai berikut :
إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً #وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat di neraka.
فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ #فَإِنَّكَ غَافرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.
ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ #فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ
Dosaku bagaikan bilangan pasir. Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ #وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
Umurku ini setiap hari berkurang. Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.
إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ #مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Wahai, Tuhanku! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun. Jika Engkau menolak, kepada siapa lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Syair diatas mengandung banyak makna serta terselip banyak harapan dan do’a. Oleh karena itu, melafalkan syair Abu Nawas sebelum sholat berjamaah sudah menjadi kebiasaan santri dan santriwati di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Harapannya agar kita selalu memohon ampunan kepada Allah SWT. Karena tanpa kita sadari, kita sudah melakukan banyak kesalahan yang menimbulkan dosa yang entah Allah mengampuninya atau tidak. Sehingga dengan membaca syair ini akan tergerak hati untuk selalu bermuhasabah memohon ampunan Allah. (Al/*)









