Jejak Nasab Rasulullah dari Sudan Singgah di Jember: Syekh Awad al-Karim Utsman Ali Muhammad

    0
    369

    Jember — Suasana Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember mendadak hening. Ratusan pasang mata menatap haru ketika sosok bersorban putih dan berjubah panjang memasuki masjid Pondok Pesantren Baitul Arqom. Beliau adalah Syekh Awad al-Karim Utsman Ali Muhammad, seorang ulama besar dari Sudan yang membawa keberkahan nasab dan keilmuan.

    Bukan sembarang tamu. Syekh Awad adalah keturunan langsung dari Aqil bin Abi Thalib, saudara tertua Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang silsilahnya bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ di kakek beliau, Abdul Muthalib. Kunjungannya ke Pondok Pesantren Baitul Arqom menjadi momen langka dan penuh hikmah, seolah menghadirkan jejak sejarah Islam ke tengah-tengah santri.

    Lahir pada 1 Januari 1965 di Sudan, Syekh Awad al-Karim dikenal sebagai Musnid Dunia, seorang ahli hadits dengan sanad keilmuan bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Beliau adalah lautan ilmu yang dalam, namun tawadhu dalam setiap tutur katanya.

    Kehadirannya di Jember bukan hanya ziarah silaturahim, tapi juga membawa ijazah ilmu, sanad, dan pesan ruhani yang menembus qalb.

    Baca Juga :  Manasik Haji: Meresapi Manfaat dan Tata Cara Haji

    Dalam majelis yang berlangsung khidmat di pesantren, beliau menyampaikan tiga pesan utama yang seolah menembus ruang hati siapa pun yang mendengar:

    1. “Ikatlah ilmu dengan dzikrullah…”

    Ilmu yang tidak diikat dengan dzikir akan menjadi beban. Tapi ilmu yang bernafas dzikrullah, akan menjadi cahaya yang menuntunmu ke akhirat.

    2. “Sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat bagi pemiliknya di akhirat…”

    Syekh Awad mengingatkan bahwa segala ilmu — baik dunia maupun agama — harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bukan untuk pujian, gelar, atau dunia semata. Karena banyak sekali orang mencitrakan dirinya, tapi lupa bahwa segalanya milik dan dari Allah.

    3. “Qalb itu akan berkarat seperti besi, bersihkan dengan dzikrullah…”

    Hati (qalb) kita seperti logam yang bisa berkarat. Dan dzikir adalah cairan pembersihnya. Tanpa dzikir, hati akan mati perlahan.

    Syekh Awad bukan hanya ahli dalam ilmu hadits. Beliau juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap tasawuf, tazkiyatun nafs, dan ilmu-ilmu ruhani. Kehadirannya seperti menghidupkan kembali semangat keilmuan ulama klasik, di tengah zaman yang haus akan makna.

    Baca Juga :  KERJA BAKTI: Pondokku Bersih, Pondokku Sehat

    Silsilah beliau yang menyambung ke Rasulullah ﷺ bukan sekadar garis darah — tapi juga sanad ruhani yang hidup dalam setiap ucapannya.

    Kehadiran beliau di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember bukan hanya momen istimewa, tapi juga penanda bahwa ilmu, nasab, dan dzikir adalah tiga tiang yang perlu dijaga dalam pendidikan Islam. Beliau seolah juga menjadi perantara kerinduan kita kepada Nabi Muhammad saw.

    Para santri yang hadir hari itu tak hanya mendapat ilmu, tapi juga ruh. Tak hanya mendengar, tapi merasakan. Semoga seluruh santri dan civitas bisa mendapat hikmah dari kehadiran sufi di tengah-tengah kita sehingga juga semakin dapat menjadikan diri kita lebih baik dan dicintai oleh Allah swt. (*)

    PENDAFTARAN SANTRI BARU

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here