Persamaan Tobur di Pesantren dengan Budaya Antri di Luar Negeri

0
43

Jember- Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, tobur alias antri sudah menjadi rutinitas harian para santri, mulai dari antri kamar mandi hingga antri mengambil makan. Walapun terlihat sederhana, ternyata budaya ini diam-diam melatih kesabaran dan ketertiban. Uniknya, kebiasaan ini memiliki banyak kemiripan dengan budaya antri di berbagai negara maju seperti Inggris, Jepang, dan Singapura.

1.Queueing Culture – Ciri khas negara Inggris yang terkenal di seluruh dunia

Masyarakat Inggris dikenal sangat menjunjung tinggi kesopanan, ketertiban, dan kesabaran dalam mengantri. Mereka rela berdiri lama tanpa protes, meskipun cuacanya sedang panas maupun dingin. Hal ini persis sekali dengan apa yang dilakukan santri, mereka tetap tobur meskipun hujan, panas, atau bahkan terburu-buru pergi ke kelas.

Di sisi lain, negara Inggris memiliki keunggulan yang tak kalah menariknya. Jika ada salah satu orang yang menyerobot, maka masyarakat akan memberinya “death stare” – tatapan tajam yang membuat orang malu sendiri. Santri pun punya versi yang sama, yaitu tatapan kompak satu barisan ketika ada teman yang tiba-tiba nyelonong.

Baca Juga :  IKHLAS: Mudah Dikatakan, namun Sulit Dijalankan

2.Kereta Shinkansen- Disiplin yang mengalir di negara Jepang

Di Jepang, orang terbiasa berdiri rapi di garis yang sudah disediakan. Bahkan saat stasiun penuh, mereka tetap tenang dan jarang bersuara keras. Ini mirip dengan kebiasaan santri yang tobur mandi atau makan dengan barisan yang teratur, meski suasananya lebih hidup dan penuh canda tawa.

3.Singapura- Negara yang terkenal tertib karena kesadaran kolektif

Singapura memiliki budaya tertib yang sangat kuat. Para penduduknya memahami bahwa antrian bukan hanya sekedar barisan, tetapi bagian dari menjaga kenyamanan publik. Hal ini juga mirip dengan kehidupan pesantren yang mengajarkan bahwa ketertiban adalah bagian dari adab kepada sesama.

Meski mirip dengan negara-negara tersebut, tobur santri mempunyai ciri khas yang tidak ada di luar negeri.

1.Diwarnai suasana keakraban dan canda tawa
Antrian di pesantren tidak kaku, sebab ada yang saling bercanda, saling bertukar cerita, bahkan saling menjaga tempat satu sama lain. Sedangkan di Jepang atau Inggris, suasananya tenang dan sangat formal.

Baca Juga :  Inilah Beberapa Festival Budaya di Pulau Jawa

2.Bernilai ibadah
Di sela-sela menunggu antrian, para santri terlihat khusyuk berdzikir, muroja’ah, atau mengulang pelajaran, sehingga antrian pun menjadi ruang pahala. Hal yang seperti ini tidak ditemukan di negara-negara lain.

3.Ada “cerita di balik antrian”
Terkadang ada pintu kamar mandi yang macet, air habis, jatah makan yang telat datang, atau adik kelas yang bertingkah lucu saat menunggu giliran. Hal-hal kecil ini membuat tobur menjadi bagian dari kenangan yang indah.

Tobur di pesantren, Inggris, Jepang, dan Singapura sama-sama mengajarkan kedisiplinan, dan ketertiban. Bedanya, tobur pesantren bukan hanya tentang antrian, tapi juga tentang kebersamaan, adab, dan cerita-cerita kecil yang melekat seumur hidup. Harapannya, semoga budaya tobur di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember terus menjadi teladan: bahwa ketertiban, adab, dan rasa saling menghormati bisa dimulai dari antrian sederhana.(Al/Ns/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here