Jember- Di setiap perjalanan yang dilalui pasti ada tantangan atau penderitaan yang datang silih berganti. Seperti kata Bapak Wakil Pengasuh Pondok, Al-Ustadz H. Muhammad Imaduddin, M.H.I, “Tidak ada di dunia ini orang yang tidak mendapat cobaan dan tidak ada orang di dunia ini yang tidak mengalami penderitaan”. Akan tetapi, dibalik itu semua tersimpan banyak makna tersembunyi. Persis seperti kisah Nabi Ibrahim as., di mana beliau terkenal dengan keteguhan iman dan ketaatannya kepada Allah SWT.
Begitu banyak cobaan yang beliau hadapi, namun tak lepas dari itu ada pelajaran berharga yang didapat. Sejak kecil, Nabi Ibrahim as. hidup ditengah-tengah penduduk yang mayoritas menyembah patung atau berhala. Bahkan, ayahnya yang bernama Azar pun pembuat patung berhala tersebut. Tetapi istimewanya, beliau yakin bahwasanya patung, gambar dan benda-benda alam tidak dapat memberikan manfaat, sehingga Nabi Ibrahim as. tidak pernah mau untuk menyembah berhala.
Kemudian, ketika penduduk di sekitarnya sedang menuju ke pesta, Nabi Ibrahim justru pergi ke kuil berhala untuk memusnahkan seluruh patung-patung kecuali patung yang terbesar. Hal ini telah disebutkan dalam ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi:
وَتَاللّٰهِ لَاَكِيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ بَعْدَ اَنْ تُوَلُّوْا مُدْبِرِيْنَ ٥٧ فَجَعَلَهُمْ جُذٰذًا اِلَّا كَبِيْرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ اِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ ٥٨
“Demi Allah, sungguh aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.” Maka Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu kecuali yang terbesar agar mereka kembali kepadanya.” (QS. Al-Anbiya: 57–58)
Setibanya kaum Zamrud, mereka pun marah besar tetapi tidak bisa membantah. Hingga akhirnya, raja zamrud memutuskan untuk memberi hukuman kepada Nabi Ibrahim as. dengan membinasakannya dan dilemparnya kedalam kobaran api yang menyala-nyala. Namun, atas izin Allah SWT api tersebut berubah menjadi dingin. Hal ini menjadi bukti atas kekuasaan Allah SWT serta kejayaan iman Nabi Ibrahim as. atas kesesatan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab suci-Nya:
قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ ٦٨ قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَۙ ٦٩ وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَۚ ٧٠
“Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman: ‘Hai api! Jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi.” (QS. Al-Anbiya: 68–70)
Di sisi lain, saat beribu-ribu doa yang Nabi Ibrahim panjatkan supaya dikaruniai anak terkabulkan. Allah SWT menguji beliau dengan memberi perintah melalui mimpinya untuk menyembelih putra pertamanya yaitu Ismail as. Setelah beliau menyampaikan hal tersebut kepada putranya, dengan penuh ketaatan Ismail As pun mengikhlaskan dirinya. Tetapi, tatkala penyembelihan hendak dilaksanakan, Allah SWT menggantikan putranya dengan seekor domba besar, sehingga peristiwa ini diabadikan dan dijadikan ketetapan syariat Idul Adha. Dalam firman Allah SWT disebutkan:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢
“Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.’ Ia menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)
Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim as adalah:
1. Memprioritaskan ketauhidan, walaupun harus bertentangan dengan tradisi keluarga atau masayarakat.
2. Memaksimalkan ketaatan terhadap Allah SWT, seberat apapun perintah-Nya harus dijalani.
3. Bersabar dan bertawakkal, harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah SWT.
4. Ikhlas dalam berkorban, menjadi bentuk cinta kita kepada Allah SWT.
Hikmah di atas cocok dengan lingkungan pesantren, di mana beraneka ragam cobaan ada di dalamnya. Namun, di samping itu terselip banyak makna berharga yang dapat kita peroleh, sehingga pondok pesantren mampu mencetak generasi yang ikhlas, sabar dan bertawakkal. Akhirnya, semoga Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember dapat meneladani kisah Nabi Ibrahim as, menjadi benteng Tauhid yang kuat, serta mendidik santri dan santriwati agar senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (Al/Qr)









