KH. Izzat Fahd, M.Pd.I: “5 Hal yang Harus Kita Pertahankan dalam Pengelolaan Lembaga”

0
1012
Pesantren Jember
Pesantren Jember

BalungPondok Pesantren Baitul Arqom Balung mengadakan agenda Kamisan rutin di gedung auditorium (18/08/22). Dengan dihadiri seluruh ustadz dan ustadzah acara berlangsung dengan khidmat. Sesekali Bapak Pimpinan Pondok, Al-Ustadz KH. Izzat Fahd, M.Pd.I menyampaikan pesan-pesan dengan gaya khasnya yang menggelitik. Tak ayal hal ini membuat bapak ibu guru yang hadir berkonsentrasi penuh mendengarkan dengan seksama hingga mampu menahan kantuk yang biasa datang di siang bolong.

Bapak Pimpinan Pondok menyampaikan bahwa sejatinya ada 5 hal yang harus dipertahankan dalam pengelolaan lembaga. Kelima hal tersebut antara lain adalah: 

  1. Aspek Kelembagaan 

Bahwa hendaknya setiap guru menyadari tugas dan perannya masing-masing sesuai dengan tugas yang diamanahkan. Artinya, setiap guru berperan penting dalam memperkuat bangunan sistem kelembagaan. Semua berperan dalam menjaga keberlangsungan sistem yang telah dibangun oleh pendiri dan pemimpin terdahulu. Bagaimana kita dapat membangun, mengembangkan, dan memperkuat sistem yang sudah berjalan sebagaimana mestinya.

“Jangan sampai ada ketidakjelasan dalam memahami perannya masing-masing pada bagian apa kita bertugas, yang nantinya akan berdampak jadi munculnya konflik internal, dan lebih jauh lagi bisa menyebabkan kemunduran pesantren, naudzubillaah,” kata KH. Izzat Fahd menjelaskan.

Perlu disadari bahwa banyak realita yang terjadi dalam kehidupan sosial bermasyarakat, yang mana biasanya kehancuran lembaga disebabkan karena konflik internal yang bahkan mungkin berawal dari hal sepele. Tentu hal ini tidak akan terjadi jika kita mampu memanage itu semua dengan baik.

  1. Kaderisasi

Membentuk kader-kader unggul untuk meneruskan perjuangan keberlangsungan lembaga bukanlah hal yang mudah. Semua butuh proses yang panjang dan energi yang tidak sedikit. Karena disadari atau tidak, kita semua semakin menua, sedangkan, pesantren ini harus tetap ada. Setidaknya dibutuhkan rumus 15 + 5 untuk membentuk seorang kader. 

Baca Juga :  Staff Pengasuhan Persiapkan Rapor Mental Santriwati Jelang Perpulangan

Rumus tersebut berarti 15 tahun masa ia menamatkan sekolah dasar hingga menengah atas dan plus 5 tahun masa ia menamatkan sekolah tinggi sekaligus pendelegasian serta pengawasan tugas. 

“Membangun sebuah gedung itu mudah, tetapi membangun seorang manusia yang berkualitas, yang unggul, yang bisa baik supervisi, motivasi, dan karakternya, hingga dia bisa dikatakan ‘mampu’, itu yang tidak mudah,” tutur beliau.

Tanpa kader-kader dengan SDM unggul, maka lembaga juga tidak akan mampu bertahan menghadapi gerusan zaman yang juga kian pintar. Namun hal itu bisa kita hadapi bersama dengan mempersiapkannya dari sekarang, terlebih lagi dalam tujuan pembangunan Perguruan Tinggi.

  1. Infrastruktur

Dalam hal ini KH. Izzat Fahd berpendapat bahwa pembangunan sudah berjalan sangat baik dengan segala pengelolaannya. Beliau berharap kedepan pembangunan gedung untuk universitas tidak ada kendala yang berarti meskipun dalam prosesnya terdapat batu kerikil yang membuat perjalanan ke arah sana tak begitu mulus.

  1. Finalisasi anggaran

Semua lembaga diwajibkan melakukan finalisasi anggaran hingga titik unit usaha terkecil yang dikelola, agar tidak ada lagi laporan keuangan minus karena akan berdampak pada kesejahteraan para guru yang dinaungi oleh lembaga. Sebab masalah keuangan bisa memunculkan rasa sentimen dari satu lembaga terhadap lembaga lainnya yang mana akhirnya mempertaruhkan kekompakan kita bersama sebagai keluarga besar Baitul Arqom.

  1. Optimalisasi jabatan struktural dan fungsional

Kiai berpesan bahwa guru tidak boleh hanya berperan menjalankan fungsi fungsionalnya saja, akan tetapi juga wajib ikut mengelola hal-hal yang terkait dengan lembaga yang mana dalam hal ini turut aktif melakukan perbaikan-perbaikan kualitas diri untuk lembaga kita menjadi lebih baik.

Baca Juga :  Kerjasama Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung Jember dengan Rahma Global Society Kuwait

Guru yang mengemban tugas di kedua bidang, sebaiknya tidak memiliki jam mengajar terlalu banyak karena dikhawatirkan tidak bisa menjalankan tugas fungsionalnya sebagai pengajar dengan maksimal oleh sebab tugas struktural yang terkadang mendadak, mendesak dan harus ada kehadirannya. Yang mana hal ini bisa menyebabkan kelas kosong tanpa kehadiran guru pengampu bidang studi tersebut. Namun jika pun demikian, maka guru tersebut harus bisa memanage keduanya dengan baik.

“Dalam hadits dijelaskan, Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama dalam dua pekerjaan. Kalau seorang guru diberi jabatan struktural dan fungsional, maka setidaknya ada lima hari ia harus bekerja dalam seminggu, dan harus ketemu untuk melakukan rapat kordinasi dan evaluasi terkait dengan program yang dibuat. Yang penting adalah bagaimana semuanya bisa sama sama seimbang dijalankan,” pungkas beliau.(qr)

 

Akses Informasi Pendaftaran Santri

>> Click Disini <<

Pertanyaan Terkait Pendaftaran Santri Baru

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here