Jember– Di balik dinding pesantren yang berdiri kokoh, tersimpan kisah panjang soal perjuangan, ilmu, dan keikhlasan. Begitu pula dengan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, yang kini menjadi salah satu poros pendidikan Islam modern di Jawa Timur. Namun akar perjuangan pesantren tidak bisa dilepaskan, saat agama dan pendidikan menjadi benteng terakhir bangsa dari tekanan kolonial.
Ketika bangsa Indonesia berada di bawah cengkeraman penjajahan Belanda, lembaga pendidikan Islam menjadi salah satu tempat yang paling ditakuti penjajah. Sebab, pesantren merupakan sarana yang melahirkan semangat perlawanan, kemandirian, dan keberanian menegakkan kebenaran. Para Kiai bukan hanya mengajar ilmu agama tapi juga menanamkan nilai cinta tanah air. Itulah sebabnya, ketika sekolah-sekolah umum sibuk dikuasai oleh Belanda, pesantren justru menjadi ruang bebas tempat para santri belajar membaca Al-qur’an sekaligus menumbuhkan jiwa nasionalisme.
Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember lahir dari semangat yang sama yakni melanjutkan tradisi pesantren sebagai pusat pendidikan, perlawanan moral, dan penjaga nila-nilai IsIam di tengah perubahan zaman. Jika pada masa penjajahan pesantren menjadi benteng perlawanan, maka di masa kini Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember menjadi benteng nilai dan moralitas di tengah tantangan modern.
Perkembangannya dari lembaga sederhana hingga kini memiliki bangunan megah, Masjid Jami’ yang indah, dan santri dari berbagai daerah, membuktikan bahwa semangat juang itu masih menyala.
Kala itu, Gedung Auditorium KH. Masykur Abdul Mu’id L.M.L dipadati oleh santri, siswa, guru, alumni, bahkan masyarakat. Nuansa penuh ketenangan menyelimuti jalannya acara Silaturrahmi Nasional dan Peresmian Masjid Jami’ Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Senyum haru tampak di wajah para hadirin yang sadar bahwa mereka sedang menyaksikan sejarah baru: masjid ini akan menjadi saksi lahirnya ribuan do’a dari generasi ke generasi.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan nasihat yang menyejukkan hati:
“Jangan sampai merasa punya peran besar di pesantren ini.”
Meski terdengar sederhana, namun kalimat di atas mampu mengguncang jiwa. Sejatinya, semua yang terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena kemampuan manusia. Kemulian bukan pada jabatan, melainkan pada ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah SWT:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Nilai ini telah hidup sejak masa penjajahan, para pejuang di pesantren tidak menuntut penghargaan, hanya berharap ridho Allah dan kemerdekaan umat.
Tak hanya itu, dalam acara ini KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed mengingatkan juga tentang nilai-nilai kesederhanaan. “Hidup ini ikhlas, maka hidup ini sederhana.” selaras dengan cara hidup di lingkungan pesantren pada masa penjajahan, para Kiai dan santri hidup sederhana – beras terbatas, kitab ditulis tangan, tidur di lantai bambu – tapi mereka besar karena keikhlasan.
Begitu pula Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember yang sampai saat ini tetap menjaga nilai kesederhanaan. Karena pada hakikatnya, di balik kesederhanaan ada kelapangan hati, ada qona’ah, dan ada kesempatan besar untuk dekat dengan Allah SWT.
Harapannya, semangat para ulama’ di masa penjajahan yang menjadikan pesantren sebagai benteng perjuangan tetap hidup di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Kini perjuangan itu diteruskan dengan keikhlasan dan kesederhanaan dalam menegakkan ilmu dan akhlak. Semoga Silaturrahmi Nasional dan Peresmian Masjid Jami’ menjadi langkah baru untuk melahirkan generasi berjiwa pejuang yang berilmu, beradab, dan tetap setia menjaga nilai-nilai pesantren sebagai warisan perjuangan para pendahulu.









