Jember- Suasana Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember pada Minggu, 26 Oktober 2025 terasa berbeda dari biasanya. Ribuan guru, santri, dan alumni hadir dalam acara Silaturahmi Nasional keluarga Baitul Arqom Jember dan Peresmian Masjid Jami’ yang digelar dengan penuh kemeriahan dan kehidmatan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh civitas dan tokoh-tokoh masyarakat. Langit cerah, lantunan shalawat, dan semangat seluruh hadirin menjadikan momen ini terasa hangat sekaligus bersejarah.
Ada dua tokoh besar dalam acara ini, yaitu Bapak Jendral (purn) Drs. H. Badrudin Haiti alumni MTs Baitul Arqom Jember sekaligus mantan Kapolri 2015-2016 dan KH. M. Akrim Mariyat, pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Keduanya hadir memberikan ilmu serta motivasi kepada seluruh santri dan tamu yang hadir.
Dalam sambutannya, Jendral Badrodin Haiti mengenang masa-masa ketika beliau menjadi santri. Dengan hangat, beliau menceritakan bagaimana nilai kedisiplinan dan kemandirian yang didapatnya dari pendidikan Pondok menjadi bekal berharga dalam hidupnya. “Saya dulu juga seperti kalian, santri yang belajar hidup mandiri, disiplin, dan berjuang dengan keterbatasan.” Kenangnya.
Dari sanalah muncul prinsip hidup yang beliau jaga sampai saat ini: “Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak?”
Ini bukan sekedar kalimat motivasi, tapi cerminan perjuangan yang menolak menyerah dalam keadaan. Beliau juga bercerita bagaimana dulu, di setiap harinya harus menempuh jarak sejauh 8-10 Km menggunakan sepeda pancal bersama ayahnya tanpa mengeluh. “Saya bukanlah anak pejabat, saya anak guru yang tidak bergaji. Tapi saya punya semangat, dan itu modal terbesar.” Tutur beliau tegas.
Pesan yang disampaikan ini menggetarkan hati seluruh hadirin, terutama para santri. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh persaingan, beliau menegaskan bahwa kunci keberhasilan bukan dilihat dari sanad maupun fasilitas, melainkan keyakinan dan kemauan untuk berusaha semaksimal mungkin. “Kalau kalian mau berjuang, berdisiplin, dan tidak menyerah, kalian juga bisa sukses. Tidak ada yang mustahil bagi orang yang punya tekad,” katanya, disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Selanjutnya, beliau menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi besar yang kadang belum mereka sadari. Tugas seorang pendidik, menurut beliau, bukan hanya mengajar, tapi membantu menemukan dan menumbuhkan potensi tersebut. Kemampuan itulah yang akan menjadi bekal utama bagi kalangan muda dalam mengabdi pada negara dan agama. ” Semua orang punya kelebihan. Tinggal bagaimana kalian mengenali dan mengembangkannya. Jangan sekali-kali takut gagal, karena dari kegagalan kita belajar untuk jadi lebih baik.” Pesan beliau dengan lembut tapi mengena.
Bagi bapak dua anak ini, pesantren adalah tempat paling cocok untuk menanamkan nilai itu. Di Pondok, santri belajar mandiri, berlatih tanggung jawab, dan membentuk karakter. Disiplin bukan hanya soal waktu, tapi juga tentang menghargai diri sendiri dan orang lain. Untuk beliau, semua itu menjadi bekal utama menuju kesuksesan.
Menutup pesannya, Suami dari ibu Tejaningsih Haiti mengingatkan para santri agar jangan takut untuk bermimpi besar. “Jangan merasa kecil, kalian punya potensi yang luar biasa. Gunakan waktu di pondok dengan sebaik-baiknya untuk menempa diri. Karena kalau orang lain bisa, kalian juga pasti bisa.” Ucap beliau penuh semangat.
Pagi itu, setiap kata yang dikeluarkan dari lisan beliau menggema di auditorium Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, meninggalkan kesan mendalam di setiap hati para hadirin terutama santri. Dibalik ketegasan seorang jenderal, terdapat kisah sederhana mengenai perjuangan, keyakinan dan harapan- bahwa siapapun dan dari manapun asal-usulnya bisa menjadi besar jika mau berjuang dengan sepenuh hati. (Ns/Qr)







