Jember- Setelah menempuh pendidikan selama 6 tahun lamanya, para santri Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember wajib menjalani masa pengabdian menjadi guru selama setahun. Mereka tidak langsung pulang ke kampung halaman ataupun melanjutkan kuliah terlebih dahulu. Tapi mereka diberikan tugas untuk mengajar dilembaga lembaga pendidikan. Bukan hanya kewajiban, tugas ini diberikan sebagai bentuk pertanggungjawaban para santri yaitu mengamalkan ilmu yang telah mereka dapat, dengan begitu mereka akan berlatih menjadi pendidik dan melatih ketulusan hati mereka.
Di setiap tahunnya, Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember akan menyelenggarakan penataran bagi setiap guru baru. Acara ini diadakan khusus untuk mereka guna mendapatkan arahan serta bekal awal bagaimana menjadi sosok pendidik sejati.
Hari itu, Selasa (15/7/25) bertempat digedung Hasan Albana, kegiatan ini terlaksana dengan baik. Seluruh guru baru berkumpul memenuhi kursi yang telah disediakan. Mendengarkan setiap nasehat yang keluar dari lisan Bapak Wakil Pengasuh Pondok Putra, Al-Ustadz H. Muhammad Immaduddin, M.H.I. dengan khidmat.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً
“Wahai orang orang yang beriman! Masuklah ke dalam islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqoroh: 208)
Ayat ini menjelaskan bahwa agama Islam harus dijalankan secara keseluruhan. Tidak setengah setengah. Setiap nilainya harus masuk ke kehidupan, baik ibadah, sosial, akhlak maupun pendidikan.
“Guru adalah sistem,” tutur beliau. Sangat cocok dengan ayat diatas. Beliau menjelaskan bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar, tapi guru adalah sistem -mengamalkan ilmu, membentuk karakter, menjadi teladan sekaligus menjaga nilai nilai islam.
Apabila Islam mengajarkan umatnya untuk masuk secara keseluruhan, guru yang ideal juga harus menguasai perannya secara totalitas. Bukan hanya mengajar tapi juga mendidik, tidak hanya hadir dikelas tapi juga dalam jiwa anak didiknya.
Dengan demikian, sebagaimana islam mengajarkan kita untuk menyelami keislaman dengan kaffah (keseluruhan), diharapkan para guru ini juga dapat menyelami serta menyatukan hati dan jiwanya dengan ilmu, nilai, dan keteladanan, sehingga dapat mendidik para santri dengan sebaik-baiknya pendidikan. (Ns/*)









