Jember- Di era modern ini, pendidikan sains termasuk salah satu peran penting dalam mengembangkan pemahaman dan keterampilan murid. Hal tersebut tidak hanya di sekolah umum saja, namun didalam pesantren sekarang sudah banyak menerapkan hal tersebut. Salah satu cara efektif dalam meningkatkan ilmu sains tersebut dengan cara melakukan praktek entah di laboratorium bahkan bisa jadi langsung terjun ke alam. Contoh praktek penggunaan Mikroskop di laboratorium.
Mikroskop merupakan alat untuk melihat jasad renik atau benda-benda yang berukuran kecil dan tidak bisa di jangkau oleh mata telanjang. Mikroskop ini ditemukan oleh orang Belanda bernama Antonie Van Leuwenhoek. Penggunaan Mikroskop dapat menjadi alat sebagai konsep pembelajaran dasar biologi, seperti struktur sel dan organisme lainnya.
Dengan adanya praktek ini bisa lebih memudahkan murid untuk memahami materi. Contohnya di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember sudah memiliki laboratorium IPA yang di dalamnya sudah tersedia alat-alat untuk praktek. Kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya mendampingi adik-adik praktikum di Lab Ipa untuk mata pelajaran Biologi. Karena jika saya menerangkan dengan materi saja mereka tampak lebih bosan dan kadang kurang paham dalam materi tersebut, beda dengan saya mengajar disertai praktek rata-rata mereka tampak lebih senang bahkan cepat dalam mencerna maksud dari materi dan paham akan materi itu. Sekitar dua minggu yang lalu saya mengajak para santriwati untuk melakukan praktek penggunaan Mikroskop di laboratorium.
Para santriwati tampak antusias dalam melakukan tahapan-tahapan ketika mempraktikkan penggunaan Mikroskop. Salah satu santriwati berkata, “ustadzah kita bisa melihat titik kecil yang ada di dalam preparat ini dengan menggunakan mikroskop, tapi hasilnya lebih indah bukan hanya titik kecil seperti ini lagi ustadzah”.
Dan ada salah satu santriwati yang lain berkata, “ustadzah kita lebih senang jika melakukan belajar diiringi dengan praktek”. Lalu teman disampingnya menambahi perkataannya, “iya ustadzah saya lebih cepat paham dengan cara praktek ini”.Rata-rata para santriwati lebih menyukai metode pembelajaran sains ini dengan lansung praktek, dengan alasan mereka lebih cepat menyerap materi tersebut.
Bisa kita lihat dari pernyataan para murid. Adanya praktek merupakan salah satu hal yang disenangi dan menjadi metode pembelajaran yang bisa membuat mereka lebih cepat menyerap materi yang disampaikan oleh guru. Dengan demikian, dengan adanya kegiatan di Lab IPA semacam ini, Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember tidak melupakan kebutuhan para santri dan santriwati untuk mengembangkan keilmuan di bidang sains dan teknologi. Semoga ananda kita semua menjadi generasi yang shalih, cerdas juga bermartabat. Aamiin. (R2M/Qr)









