Jember- Nabi Sulaiman merupakan seorang nabi yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Bukan hanya seorang nabi, beliau adalah seorang raja yang sangat bijaksana. Memiliki kerajaaan yang sangat besar, meliputi manusia, jin, dan hewan. Kekuasaannya ini berasal dari kepemimpinannya yang adil, bijak dan penuh kesyukuran.
Allah SWT berfirman dalam surah An-Naml ayat 18-19.
حَتّٰۤى اِذَاۤ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِ ۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ یّٰۤاَیُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْ ۚ لَا یَحْطِمَنَّكُمْ سُلَیْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗ ۙ وَهُمْ لَا یَشْعُرُوْنَ ۟
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Artinya:
“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
Dalam ayat Al-Qur’an ini, diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman dan bala tentaranya berjalan melewati lembah semut. Kala itu, seorang semut berkata kepada kaumnya supaya masuk kedalam sarang agar tidak terinjak oleh pasukan Nabi. Menariknya, semut itu mengatakan bahwa bisa saja nabi menginjak mereka tanpa sengaja, bukan menuduh nabi dan bala tentaranya.
Ketika mendengar perkataan semut, Nabi Sulaiman tidak merasa tersinggung maupun marah. Sebaliknya, beliau tersenyum serta bersyukur kepada Allah, kemudian berdoa agar diberi kemampuan untuk bersyukur, beramal shaleh, dan selalu ridho akan keputusan Allah. Hal ini menunjukan bahwa Nabi Sulaiman sadar bahwa apa semua yang dimilikinya adalah titipan, amanah dari Allah. Itu bukanlah hal yang harus di sombongkan. Beliau tetap rendah hati dan bersyukur kepada Allah. Ini lah contoh kepemimpinan yang bijaksana dan rendah hati.
Tidak hanya itu, Nabi Sulaiman juga terkenal dengan keadilannya dalam memutuskan suatu perkara. Tidak hanya memanfaatkan kekuasaannya, tapi juga senantiasa meminta petunjuk kepada Allah agar apa yang diputuskan benar-benar adil membawa keberkahan dan kemanfaatan.
Nilai-nilai kepemimpinan Nabi Sulaiman ini relevan dengan pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Tidak hanya mengajarkan ilmu agama, Baitul Arqom Jember juga menanamkan sifat rendah hati dan adil dalam bersikap. Pondok juga mendidik santri-santrinya agar tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga bijaksana dalam memimpin, baik memimpin diri sendiri maupun orang lain.
Di pesantren, santri diajarkan hidup sederhana, hormat pada guru dan sesama, serta taat aturan. Sangat selaras dengan keteladanan Nabi Sulaiman yang menjadikan amanah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, santri diharapkan menjadi pribadi yang tidak hanya berilmu, tapijuga berakhlak dan siap memimpin umat dengan adil dan bijaksana. (Ns/Qr)









