Jember-Ketika kita membahas mengenai cahaya, kita membicarakan sesuatu yang sangat luar biasa. Segala hal dapat dilihat oleh mata bukan hanya karena ketajaman penglihatan yang dimiliki melainkan cahaya.
Ya, Ilmu itu bagaikan cahaya. Barang siapa yang menuntut ilmu, lantas pengetahuan yang didapatnya beralih menjadi cahaya, maka hidup mereka akan mudah. Ibarat seseorang yang berjalan di dalam kegelapan dengan obor di tangan yang menerangi jalan , dia tak akan takut terperosok ke dalam lubang atau terantuk batu. Bahkan pada malam hari sekalipun, apabila terdapat cahaya di dalamnya, kita masih dapat belajar dan berjalan-jalan. Itulah keindahan cahaya. Itulah keindahan cahaya. Demikianlah pesan yang disampaikan oleh Bapak Wakil Direktur KMI Gontor, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto ketika beberapa waktu lalu berkunjung ke Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember.
Beliau melanjutkan, “Tapi bayangkan, “wal jahlu dzulmatun”. Jika ilmu merupakan nur, maka kebodohan adalah kegelapan. Bayangkan disebuah malam yang tidak terdapat satupun cahaya di dalamnya. Gelap gulita, tak tahu arah. Begitulah gambaran orang bodoh, tak berilmu. Ia akan selalu merasa khawatir akan hukum-hukum dari segala sesuatu. Sepanjang hidupnya, dia akan merasa takut, ragu, dan dipenuhi prasangka-prasangka,” jelasnya.
“Karena itu anak-anakku, bersyukurlah kita ada di sini(di pondok pesantren). Di sini adalah kerajaan cahaya. Saya menyaksikan semuanya disini bercahaya. Masyaallah.” Ujar KH. Dr. Ahmad Suharto mengenai arti penting dari cahaya akhlak, ilmu, idealisme, adab, sopan santun, dan akidah.
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَى نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya:
“Allah adalah pemberi cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkil menambahkan cahaya, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tidak timur dan tidak pula barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis cahaya). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Banyak nasihat yang disampaikan terkait keutamaan ilmu dan ketika kita meraih serta mengamalkannya. Berkaitan dengan Cahaya (Nur) dan Kegelapan (Dzulum), beliau melanjutkan petuahnya:
“Kegelapan itu bertingkat-tingkat, sementara cahaya itu bertingkat-tingkat pula. Tapi ingat, kekufuran itu kegelapan, kedzaliman itu kegelapan, kefasikan itu kegelapan, kebodohan itu kegelapan. Lalu bagaimana jika seseorang sudahlah tak beriman, tak berilmu, lalu ia berbuat semena-mena? Maka hidupnya dzulumaatun ba’dluhaa fawqa ba’dlin,” kata beliau.
Ustadz yang sejak muda sudah dekat dengan Pondok Pesantren Baitul Arqom ini juga menambahkan bahwa, apapun yang diterima oleh anak-anak dari pondok, itu semua tidak dapat dibeli dengan uang. Karena segala ilmu yang mereka dapatkan akan menolong, menyelamatkan, dan membimbing, memudahkan hidup mereka nantinya.
Dengan ilmu, hidup menjadi mudah.
Dengan agama, hidup menjadi benar.
Dan dengan seni, hidup akan menjadi indah.
Kita di sini pun diajari apa arti keindahan. Mulai dari bangunan-bangunan pondoknya hingga anak-anak didiknya. Karena Allah merupakan Yang Maha Indah dan menyukai keindahan. Maka peradaban yang dibangun di pondok ini merupakan peradaban Islam yang identik dengan keindahan.
Islam mengajarkan keindahan. Kita dapat mengambil contoh dari hal sederhana. Sebelum berangkat ke masjid, kita disunnahkan untuk memakai pakaian terbaik. Kemudian Muazin tidak dapat dipilih secara sembarangan. Bahkan dalam shalat jama’ah, kita diminta untuk meluruskan Shaf supaya nampak indah.
Seluruh sumber dari hidayah, ilmu dan pengetahuan adalah Allah. اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ . Maka apabila seseorang ingin ingin mendapatkan cahaya langsung dari sumbernya, maka ia harus memperbaiki hubungannya dengan Allah. Itu merupakan kunci keberhasilan terbesar.
Ada banyak orang yang belajar begitu keras namun ilmunya tidak dapat mencerahkan. Banyak pula orang yang berusaha payah puluhan tahun demi mendapatkan titel sebagai dokter, professor, dan pejabat justru merampok , mencuri dan korupsi. Ilmunya tidak bercahaya.
Kunci kesuksesan yang lain adalah fokus. Meskipun seseorang sudah belajar dengan tekun, namun hati serta pikirannya terombang-ambing, dia tidak akan berhasil. Namun, apabila anak-anak dapat memfokuskan pekerjaan, waktu, dan tenaga mereka dapat menciptakan sesuatu yang hebat.
Segala hal memerlukan wadah, termasuk ilmu dan hidayah. Dan wadah yang sesuai untuk keduanya adalah dada yang lapang. Akan amat sulit bagi ilmu untuk merasuk pada jiwa seseorang apabila ia memiliki dada yang sempit. Misbah adalah ilmu yang diberikan oleh guru. Ia memerlukan zujaajun atau tempat yang bening yakni hati. Dan apabila kita ingin agar cahaya di dalam hati kita berpendar terang, maka kita harus membeningkan hati, jiwa, akhlak, dan pikiran.
Demikian pesan nasihat beliau untuk kita semua, semoga kita semua menjadi ahli ilmu yang amanah yang bisa meneruskan dakwah perjuangan Nabi kita dari masa ke masa. (Nd/*)









