Home Catatan Apakah Anak Siap Mondok? Inilah Tanda-tandanya

Apakah Anak Siap Mondok? Inilah Tanda-tandanya

0
9

Jember- Memasukkan anak ke dalam pondok adalah pilihan yang tepat bagi orang tua. Karena pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang bukan hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan agama, akan tetapi pesantren juga membentuk karakter dalam diri anak. Ketika anak mau mengikuti dan menjalankan kehidupan di pesantren dengan cara mandiri, sederhana, bersabar serta ikhlas, perjuangan anak yang diusahakan di dalam pondok akan terasa perkembangannya pada diri anak.

Memasukkan anak ke pondok bukan hanya perlu mempersiapkan dalam kondisi finansial atau material. Akan tetapi kesiapan mental anak juga sangat diperlukan. Kenapa kesiapan anak sangat diperlukan? Karena dengan adanya kesiapan itu dapat membantu dalam mempermudah  proses anak dalam beradaptasi, mengembangkan semangat pada anak untuk mondok dan membuat anak lebih cepat merasa nyaman di dalam lingkungan pesantren. Kita sudah mengetahui bahwa kesiapan mental anak untuk mondok sangatlah berpengaruh pada perkembangan anak didalam lingkungan pesantren.

Kenapa masih banyak anak yang  “menyerah” alias “berhenti mondok”? Kemungkinan besar, anak yang berhenti mondok dipertengahan jalan, adalah mereka yang belum siap secara mental dengan segala konsekuensi yang akan mereka hadapi didalam pesantren, sehingga mereka merasa tertekan dan shock didalam pondok dan pikiran mereka dipenuhi oleh kata “berhenti mondok” alhasil mereka tidak dapat berfikir jernih dan berfikir luas. Maka bagaimana cara kita mengetahui bahwasanya anak siap untuk mondok? Berikut tanda-tandanya:

1. Mulai punya kemauan sendiri untuk mondok.
Anak tidak hanya dipaksa oleh orang tua, akan tetapi anak punya kemauan yang dari dalam diri untuk mondok. Hal ini sangatlah bagus karena mempermudah adaptasi anak di pesantren.

Baca Juga :  Kursus Sore: “Study Harder is the Key of Success”

2. Memahami tujuan mondok
Didalam pesantren anak bukan hanya untuk menuntut ilmu saja, akan tetapi juga bertujuan untuk melatih diri agar menjadi mandiri, berakhlak, berdisiplin dan menjadi lebih tanggung jawab.

3. Mampu berpisah dengan orang tua
Ketika anak menangis di pondok itu adalah hal yang biasa. Karena ada kemungkinan, sebagian dari mereka tidak pernah berpisah dengan orang tua mereka. Akan tetapi jangan sampai anak terlarut dalam kesedihan tersebut dan memahami bahwasannya perpisahan ini hanyalah sementara dan itu semua tidak akan mengurangi kasih sayang orang tua kepada anak mereka.

4. Tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan.
Anak memahami bahwasannya kehidupan di pondok tidak selamanya tentang kesenangan saja, akan tetapi pasti ada kesulitan disetiap prosesnya. Maka dengan adanya kesulitan itu, anak tidak takut untuk menghadapinya, tidak mudah menyerah, dan anak memahami bahwa disetiap kesulitan itu ada sebuah pembelajaran hidup.

5. Mau hidup mandiri
Anak tidak ingin hidupnya selalu bergantung kepada orang tua ataupun orang lain. Artinya anak ingin meningkatkan kualitas diri mereka untuk menjadi kepribadian yang lebih mandiri, dan mengusahakan semampu mereka.

6. Mau mengikut aturan
Anak bersedia untuk mengikuti peraturan pondok, seperti: bangun sesuai jadwal, mengikuti kegiatan, menjaga adab, dan menerima konsekuensi ketika melakukan kesalahan. Meskipun pada awalnya terasa berat akan tetapi ketika dijalani dengan ikhlas dan sabar, semua itu akan menjadi kebiasaan yang baik.

Baca Juga :  Cashless : Pesantren Baitul Arqom Jember Terapkan Transaksi Secara Non Tunai

7. Orang tua juga siap melepas dengan cara yang sehat
Ini sering dilupakan oleh sebagian masyarakat. Bahwasannya anak akan lebih mudah beradaptasi ketika orang tua memberikan kepercayaan yang besar kepada anak, tidak terus-menerus membuatnya merasa bersalah karena meninggalkan rumah, dan tetap menjadi tempat pulang secara emosional. Dengan dukungan dan motivasi positif yang diberikan orang tua kepada anak, sangatlah berpengaruh besar pada perkembangan anak di pondok.

Pada akhirnya, kesiapan anak untuk mondok bukan berarti anak harus mampu melakukan semuanya sendiri atau tidak pernah merasa takut dan rindu kepada orang tua. Setiap anak memiliki proses dan waktu yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah membekali mereka dengan kemandirian, mental yang kuat, pemahaman tentang tujuan mondok, serta dukungan dan doa dari orang tua. Sebab, mondok bukan hanya sekadar tentang tinggal jauh dari rumah, tetapi tentang belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, berakhlak, bertanggung jawab, dan dekat dengan Allah. Maka, ketika anak mulai melangkahkan kaki menuju pesantren, dukunglah mereka dengan dorongan yang baik, jadilah penyemangat disetiap perjalanan mereka, dan biarkan ia membawa bukan hanya bekal pakaian dan perlengkapan, tetapi juga bekal doa, nasihat, dan keyakinan bahwa ia mampu melewati setiap prosesnya.(Nr/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here