Jember- Kemudahan akses hiburan dan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas berpikir. Justru, tanpa kontrol dan tujuan yang jelas, hal tersebut dapat memicu brain rot, yaitu melemahnya daya fokus, nalar, dan kesadaran akan proses belajar yang sesungguhnya.
Secara bahasa, brain rot berarti ‘pembusukan otak’. Istilah ini muncul dalam buku Walden karya Henry David Thoreau pada tahun 1854, sebagai kritik terhadap kecenderungan masyarakat yang lebih menyukai konten tidak berbobot, sehingga berpotensi menurunkan kualitas mental.
Di era serba instan, brain rot tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering kali luput dari kesadaran kita, seperti:
– Doomscrolling: paparan konten negatif yang berlebihan hingga memicu kecemasan
– Zombie scrolling: menggunakan media sosial tanpa arah dan tujuan yang jelas
– Kompulsif: mengonsumsi media sosial secara berlebihan hingga lupa waktu
– Kecanduan media sosial: kebiasaan memeriksa ponsel secara berlebihan hingga menimbulkan kegelisahan saat tidak bermedia sosial.
– Kurangnya membaca sehingga otak jarang bekerja.
Fenomena ini terjadi akibat otak terbiasa menerima informasi cepat yang tidak esensial (dopamin instan), sehingga kemampuan memproses informasi kompleks mengalami penurunan.
Jika dibiarkan, brain rot dapat menimbulkan berbagai dampak yang serius, di antaranya:
– Menurunnya kualitas kognitif,
– Emosi menjadi tidak stabil, dan
– Sulit bersosialisasi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya merugikan individu, tetapi juga melemahkan kualitas intelektual masyarakat.
Apakah brain rot bisa disembuhkan? Tentu saja bisa, karena brain rot bukanlah kondisi permanen, sehingga masih dapat dicegah dan dipulihkan melalui perubahan kebiasaan. Berikut beberapa cara untuk mengatasi gejala brain rot:
1. Detoks digital: Mengurangi penggunaan gawai dan media digital agar pikiran menjadi lebih tenang dan fokus kembali, karena hal ini membantu otak beristirahat dari paparan informasi yang tidak bermanfaat.
2. Stimulasi otak: Melatih otak agar terbiasa dengan aktivitas yang menantang dan mampu meningkatkan konsentrasi seperti membaca buku, belajar keterampilan baru, bermain teka-teki, dll.
3. Pandai memilih konten untuk dikonsumsi: Batasi hiburan instan, perbanyak konten bernilai.
Itulah kenapa para santri yang belajar di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember dilarang membawa HP, smartphone, tablet, dan sejenisnya. Tentu alasan pelarangan ini dengan tujuan untuk mengurangi resiko terpapar gadget, kecanduan game online, dan penggunaan media sosial berlebih, sehingga mencegah Brain Rot pada anak usia remaja, karena jika sudah kecanduan, pasti membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkannya.
Di Pondok, seluruh santri disibukkan dengan belajar, belajar, dan belajar. Kemanapun mereka pergi selalu membawa buku dan kitab untuk dibaca dan dipelajari. Dengan demikian, mereka dibentuk pribadi yang suka membaca, rajin belajar, dan mencintai ilmu pengetahuan. Sehingga sekalipun ketika perpulangan mereka sempat bermain gadget, diharapkan mereka bisa mengontrol diri dan waktu ketika bermain media sosial, dan game online.
Harapannya, kesadaran tentang brain rot mendorong kita untuk lebih bijak dalam menggunakan waktu, gawai, dan informasi yang dikonsumsi setiap hari. (Al/Qr)









