Home Terkini ISRA’ MI’RAJ: Bukan Sekedar Perjalanan Biasa Sang Nabi

ISRA’ MI’RAJ: Bukan Sekedar Perjalanan Biasa Sang Nabi

0
378

Jember Pernahkah kita bertanya, apa sih Isra’ Mi’raj itu? Mengapa peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW begitu istimewa hingga diperingati setiap tanggal 27 Rajab?

Secara bahasa, Isra’ Mi’raj berasal dari dua kata: Isra’ berasal dari (سرى) yang berarti perjalanan di malam hari, sedangkan Mi’raj berarti alat atau tangga untuk naik ke tempat yang lebih tinggi.

Namun di sisi lain, Isra’ Mi’raj terdiri dari dua peristiwa:
1. Isra’ merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqsha (Palestina). Peristiwa ini telah dijelaskan dalam ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra’: 1)

Baca Juga :  MERIAH : Alumni Gelar Expo Kampus

2. Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18)

Artinya: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (Q.S. An-Najm: 13-18)

Isra’ Mi’raj terjadi sekitar tahun ke-10 kenabian, dimana dalam perjalanannya beliau ditemani Malaikat Jibril dengan mengendarai Buraq dan bertemu dengan para nabi di setiap lapisan-lapisan langit, sampai akhirnya menerima perintah sholat langsung dari Allah SWT. Oleh sebab itu, peristiwa ini bukanlah peristiwa biasa, melainkan istimewa dan bermakna.

Baca Juga :  Ujian Kursus Sore, Asah Pemahaman Santri Sebelum Ujian Akhir Semester

Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember pun juga mengadakan pengajian guna merayakan peristiwa bersejarah diperintahkannya Shalat 5 waktu ini di Masjid Baitul Arqom (16/01/26). Al-Ustadz Farihin Almaeda berperan sebagai penceramah pada kesempatan tersebut. Beliau memberi nasihat bahwa perjalanan Nabi berisra’ Mi’raj hendaknya menjadi pengingat bahwa sebagai umat muslim, kita wajib meresapi bacaan-bacaan shalat kita sebagai seorang hamba yang benar-benar membutuhkan Sang Pencipta, dan bukan hanya sekedar kewajiban belaka. Sehingga shalat itu bisa merefleksikan dan mencerminkan kebaikan dan kebijaksanaan kita sebagai ummat Rasulullah yang membawa pesan “Rahmatan lil ‘alamin”.

Semoga peristiwa agung Isra’ Mi’raj ini semakin meneguhkan iman kita, memperkuat kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, serta memotivasi kita untuk menjaga sholat sebagai tiang agama dalam setiap keadaan. (Al/Ns/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here