Mengapa Pesantren Tetap Relevan di Era Digital?

    0
    3

    Jember- Apabila dapat didefinisikan secara singkat, era digital merujuk pada kondisi di mana kehidupan manusia ditopang oleh berbagai teknologi cerdas yang bertujuan untuk memudahkan keberlangsungan hidup mereka. Banyaknya keuntungan yang dapat dicapai dengan dilahirkannya teknologi-teknologi ini membuat beberapa lapisan masyarakat berbondong-bondong mengikuti arus perkembangan tersebut. Kemudahan segala bentuk akses informasi, kemampuan melipat jarak untuk berkomunikasi bagi dua orang yang berjauhan, dan pola belajar yang turut mengikuti perkembangan menjadi beberapa perubahan yang hadir di era digital. Bahkan pesantren yang merupakan perwujudan dari tradisi belajar ala santri, tidak dapat dipungkiri, pun berdiri di tengah perubahan ini.

    Dari waktu ke waktu, pesantren telah mengalami berbagai macam perkembangan yang cukup signifikan. Mulai dari materi pembelajaran yang tak hanya mencakup kitab kuning saja melainkan telah menyentuh berbagai pelajaran umum sebagaimana yang diajarkan pada sekolah-sekolah umum biasa. Pesantren tidak hanya terjebak pada satu tradisi dan menafikan berbagai macam perubahan seiring berjalannya waktu hanya dengan embel-embel bahwa teknologi merupakan hal terburuk yang dilahirkan oleh otak cerdas manusia. Walaupun, adanya dampak buruk dari teknologi itu sendiri pun tidak dapat dipandang sebelah mata. Justru pada poin inilah peran pesantren amat diperlukan. Pesantren tak menolak kehadiran dari teknologi melainkan menyiapkan para santrinya untuk menghadapi arus deras digitalisasi.

    Baca Juga :  Latihan Rutin Pramuka : Mempersiapkan Diri Membangun Masyarakat

    Di dalam lingkungan pesantren, anak didik dibiasakan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan ketentuan-ketentuan akidah agama. Mereka dilatih untuk mengerti apa itu disiplin dan bagaimana cara mempertahankannya tanpa perlu ditakut-takuti dengan adanya konsekuensi. Pemahaman tentang tanggung jawab pun amat ditekankan berkali-kali agar nantinya anak-anak yang dilahirkan dari rahim pesantren tidak menjadi seorang yang masa bodoh dan semaunya sendiri setelah terjun ke dalam masyarakat nantinya. Peran-peran tersebutlah, yang tentu tidak dapat diambil alih oleh teknologi, harus membuat pesantren tetap kokoh berdiri di era gempuran digital ini.

    Berbagai macam sumber bacaan, informasi, referensi yang dulu hanya bisa didapat dari koran dan buku kini bisa muncul hanya dengan mengetikkan beberapa kata kunci di peramban. Situs-situs yang dibutuhkan akan berderet muncul dalam satu jentikan jari. Dengan adanya kemudahan ini, berbagai macam pembelajaran dan dakwah dapat tersebar lebih gampang. Dan tugas pesantren pada keadaan ini adalah mengarahkan para santrinya agar tetap bijak dalam proses penggunaan gawai itu sendiri.

    Sebagaimana banjir pada umumnya yang tak hanya berisi luapan air namun berbagai macam material berbahaya yang dapat melukai manusia, di tengah banjir informasi ini anak-anak didik harus mendapatkan bimbingan ketat dan intensif tentang bagaimana cara untuk menyaring informasi agar nantinya mereka tak hanyut terseret efek tercela dari informasi yang mereka gali. Beberapa identitas yang dapat mereka ubah semau mereka dalam jejaring dunia maya tidak boleh seenaknya mengubah etika dalam bergaul di dalamnya. Pada era ini, jari yang mengetik terlalu cepat mendahului otak dapat memantik konflik yang tak berkesudahan. Maka, pelajaran mengenai tanggung jawab yang didapat oleh para santri harus benar-benar diaplikasikan dan tidak ditinggalkan begitu saja sebagai formalitas pembelajaran.

    Baca Juga :  Melestarikan dan Mengembangkan Warisan Budaya Batik

    Perubahan akan selalu ada di setiap perkembangan zaman. Maka adaptasi pesantren memiliki nilai penting pada proses ini. Pesantren akan tetap relevan tanpa menolak keras keberadaan teknologi. Sebab, perannya yang vital untuk menanamkan rasa bertanggung jawab tidak dapat diwujudkan sebatas teori. Nilai-nilai tersebut justru memerlukan pembiasaan melalui kehidupan sehari-hari, sehingga santri tidak hanya memahami bagaimana teknologi seharusnya digunakan, tetapi juga memahami bagaimana menggunakannya dengan bijak dan penuh tanggung jawab. (Nd/Qr)

    PENDAFTARAN SANTRI BARU

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here