Jember– Tepat pukul 14.00 WIB, suasana di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember terasa lebih khidmat. Teriknya matahari tak menyurutkan semangat para santri ataupun santriwati yang berbondong-bondong menuju ruang ujian masing-masing. Di setiap kelas, tampak wajah-wajah penuh kesungguhan dalam menghadapi ujian kursus sore, momen penting yang menandai hasil perjuangan belajar selama satu semester.
Meski suhu siang itu cukup hangat, namun suasana di dalam kelas terasa teduh. Suara kertas yang dibalik, pena yang menari di atas meja, bahkan bisik do’a yang lirih menciptakan harmoni khas pondok pesantren. Dari kelas 1 hingga kelas 4 semua santri/santriwati terlihat fokus, menatap lembar soal dengan tekad kuat untuk memberikan yang terbaik.
Bapak Pimpinan Pondok, al-Ustadz KH. Izzat Fahd, M.Pd.I pernah berpesan, “Ujian itu untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”. Kalimat tersebut sederhana, namun sarat makna sehingga mampu menggugah hati para peserta didiknya.
Beliau menegaskan bahwa sejatinya ujian bukan akhir dari sebuah proses, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju ilmu yang berkah. Nilai bukanlah tujuan utama, tetapi cermin dari seberapa sungguh seseorang menuntut ilmu dengan jiwa keikhlasan dan kejujuran.
Filosofi ini persis seperti sistem pendidikan di berbagai negara maju seperti Jepang dan Finlandia. Di sana, ujian bukan satu-satunya tolak ukur keberhasilan siswa. Mereka menekankan pada proses belajar, karakter, dan kemampuan berpikir kritis. Mereka belajar untuk memahami, bukan sekedar menghafalkan.
Begitu pula di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, para santri/santriwati dididik untuk meneladani nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Setiap ujian adalah latihan kesungguhan, bukan sekedar mencari nilai tinggi. Karena dibalik setiap lembar jawaban, ada latihan mental, adab, serta niat yang terus diperbaiki.
Ketika bel tanda waktu habis berbunyi, terpampang ekspresi lega di wajah para peserta. Ujian ini tidak hanya sebatas menilai kemampuan otak, tapi juga membentuk hati dan karakter. Dari sini mereka belajar, bahwa setiap perjuangan, sekecil apapun itu, bernilai ibadah.
Harapannya, lewat ujian kursus sore ini seluruh santri maupun santriwati dapat semakin giat menuntut ilmu dan terus menghidupkan semangat belajar yang tulus. Sebab seperti pesan KH. Izzat Fahd, M.Pd.I bahwa “Ujian untuk belajar bukan belajar untuk ujian.” (Al/Qr)








