Jember- Halal bihalal merupakan salah satu warisan budaya Islam Nusantara yang sangat khas. Halal bihalal bukan hanya tradisi tahunan, tetapi acara tersebut merupakan sebuah panggilan jiwa untuk menjadi manusia yang lebih baik. Acara tersebut bisa menjadi ajang silaturahmi selepas Ramadhan untuk saling memaafkan, merendahkan ego, dan mempererat persaudaraan.
Tepat pada hari Rabu, 9 April 2025 di masjid pondok putra Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember mengadakan halal bihalal bersama Bapak Pimpinan Pondok, KH. Izzat Fahd, M.Pd.I beserta jajarannya, guru-guru se-balai, santriwati kelas 5 & 6 dan dihadiri oleh KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor) beserta istrinya. Acara berlangsung dengan khidmat dan sangat meriah karena seluruh guru dan para ustadz-ustadzah terlihat memenuhi tempat duduk yang sudah disediakan serta menyimak nasihat demi nasihat dengan khusyuk.
Diketahui bersama, beliau merupakan sahabat karib Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung Jember terdahulu (alm) KH. Masykur Abdul Mu’id, LML semasa mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Beliau juga mengenang jasa KH. Masykur dengan sangat baik dan bercerita telah beberapa kali berkunjung ke sini.
Di tengah suasana kebersamaan ini, Al- Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal berkata, “Semua orang memiliki jati diri, dan tidak semua orang bisa melawan jati dirinya”. Jati diri merupakan identitas spiritual, moral, dan sosial seseorang, dibentuk oleh perjalanan hidup, nilai-nilai yang dipegang, serta lingkungan yang membesarkannya. Melawan jati diri bukan hal yang mudah, kita butuh keberanian, kesadaran diri yang tinggi, dan keinginan untuk berubah. Banyak orang memilih diam dalam zona nyaman, meskipun itu berarti terus hidup dalam ketidaksesuaian. Beberapa faktor yang membuat orang sulit melawan jati dirinya:
- Takut dikucilkan oleh lingkungan sekitar.
- Ketergantungan emosional terhadap identitas lama.
- Tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
- Trauma atau luka batin yang belum selesai.
Melawan jati diri bukan berarti membenci diri sendiri, melainkan berani jujur bahwa ada hal-hal dalam diri yang perlu dikaji ulang bahkan diubah. Hal tersebut merupakan suatu proses pembebasan dari topeng sosial, dari luka masa lalu, dan dari penjara pemikiran yang membatasi. Dalam melawan jati diri kita butuh keberanian luar biasa untuk menantang kenyamanan, mempertanyakan kebiasaan, dan melangkah keluar dari bayang-bayang diri sendiri. Karena sejatinya, melawan jati diri bukan berarti mengingkari siapa kita, tapi tentang keberanian untuk berubah menjadi versi terbaik dari diri yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya.
Beliau juga menasehati, “Kamu tidak mungkin bisa mencintai semua manusia, dan kamu tidak mungkin dicintai semua manusia. Maka cintailah Allah”. Kehadiran beliau merupakan kebahagiaan dan keberkahan tersendiri sebagaimana beliau adalah Ayah, Gurunda, Kiai, dan Murobbi kita semua. (R²M/*)








