Jember- Pesantren merupakan salah satu wujud dari lembaga pendidikan yang sudah lama berkembang di tanah air. Dengan gaya asrama berdisiplin dan wajibnya anak didik untuk tinggal di sana selama menuntut ilmu, pesantren seakan sudah menjadi miniatur masyarakat dimana anak-anak tak hanya belajar tentang kitab kuning serta ilmu agama. Melainkan terdapat pendidikan karakter di dalamnya, dan di situ lah mayoritas orang awam kurang mengerti.
Pada era globalisasi ini, gadget merupakan tantangan besar bagi generasi muda. Cepatnya informasi menyebar, jangkauan berita yang luas haruslah disaring agar sesuai dengan norma-norma masyarakat. Maka dari itu, haruslah ada pendidikan yang cukup kuat untuk menyeimbangi perubahan zaman tersebut agar anak-anak muda tak mudah terseret arus globalisasi. Dan salah satu opsi dari pendidikan tersebut, pesantren dapat menjadi pilihan yang baik.
Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di pondok pesantrenten terstruktur dengan baik. Namun, meskipun begitu para santri tidak hanya mendapatkan pelajaran berharga di bangku kelas saja melainkan kehidupan sehari-hari. Para ustadz dan ustadzah mendapat peran yang amat penting dalam proses pendidikan ini. Mereka membantu anak didik dalam memahami arti penting pendidikan yang tidak hanya menambah pengetahuan melainkan bekal untuk kehidupan mendatang.
Selain pendidikan formal, pesantren pun turut berperan dalam membangun karakter seperti tanggung jawab serta kedisiplinan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pembiasaan ibadah seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an dan kegiatan keagaam lainnya. Belajar menghormati guru, menjaga etika, menyayangi sesama, serta taat peraturan. Kehidupan bersama dengan individu-individu lain melatih kesabaran, kebersamaan, toleransi, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama. Pada pendidikan kepesantrenan, akhlak tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi dibentuk melalui pembiasaan sehari-hari.
Selama berada di dalam lingkungan pesantren, karakter santri digembleng sebaik mungkin. Salah satunya di dalam mengatur waktu, ibadah, organisasi, dan kegiatan yang lainnya. Kehidupan yang berada jauh dari pendampingan orang tua melatih santri agar menjadi mandiri. Arti penting amanah pun diajarkan selama menjadi bagian dari Organisasi santri. Dan keseluruhan dari pengalaman tersebut itulah yang nantinya menjadi bekal ketika santri yang selama ini tinggal di dalam miniatur masyarakat, terjun dalam dunia yang sesungguhnya.
Saat ini, perkembangan teknologi yang pesat menjadi salah satu tantangan bagi anak muda. Layaknya ombak lautan, apabila seseorang tak memiliki pijakan yang teguh dan kemampuan mengendalikan diri, mereka hanya akan terombang-ambing di tengah samudera. Dan atas dasar itulah, pesantren membekali santri-santrinya kemampuan untuk menyaring segala informasi dan penggunaan teknologi secara bijak. Pendidikan di pesantren berjalan beriringan antara ilmu pengetahuan dan keterampilan modern. Dengan harapan agar nantinya santri tak hanya mampu untuk memahami ilmu agama namun mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi tanpa melepaskan pegangan nilai-nilai keislaman.
Ilmu dan akhlak yang didapat oleh Santri nantinya akan menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka nantinya akan mendapatkan peran sebagai banyak hal. Pendidik, pemimpin, ulama, professional, maupun anggota masyarakat yang bermanfaat. Kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian merupakan kunci yang harus dibawa kemanapun dan diterapkan ke dalam bidang apapun. Pesantren mendapatkan andil dalam peran pencetakan karakter-karakter mulia tersebut.
Demikian juga dengan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember yang adalah merupakan Pesantren Alumni Gontor tertua dan pertama di Jawa Timur. Pondok ini didirikan dna dikembangkan oleh (alm)KH. Masykur Abdul Mu’id, LML, dan pondok ini turut berperan dalam mengasah karakter para santrinya guna menjadi santri yang mandiri, jujur, disiplin dan berintegritas ketika dilepas dan terjun ke masyarakat. Apa yang dipelajari santri di pondok pesantren adalah kurikulum kehidupan yang mengandung unsur pendidikan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, tiada waktu tanpa produktiitas.
Walaupun banyak orang-orang yang sekedar menyebut pesantren sebagai tempat belajar kitab-kitab kuning dan fiqih, kehidupan dibalik gerbangnya memiliki perjalanan yang lebih panjang. Di tempat inilah, pelajaran tak hanya dapat diambil melalui buku-buku, kitab-kitab melainkan setiap rutinitas, peristiwa, peraturan, dan pengalaman yang dijalani oleh mereka sehari-hari.(Nd/Qr)









