Jember — Usainya Apel Tahunan tidak serta-merta mengakhiri rangkaian kesibukan di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Berbagai agenda dan tugas lainnya masih menanti untuk dituntaskan. Sehari setelah momentum tahunan tersebut, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA., Ph.D kembali menghadiri pertemuan Forum Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Alumni Gontor (FPAG) yang berlangsung di Rumah Makan Lestari, Jember. Puluhan pimpinan yayasan pondok pesantren turut menghadiri forum tersebut.
Sebagai wadah komunikasi dan silaturahmi antaralumni Pondok Modern Darussalam Gontor yang memimpin atau mengelola lembaga pendidikan pesantren, forum ini menjadi ruang untuk memperkuat sinergi dan membahas keberlanjutan pengelolaan pesantren alumni.
Dalam pertemuan tersebut, KH. Anang Rikza Masyhadi memaparkan berbagai aspek kepesantrenan, mulai dari peta jalan penguatan kelembagaan hingga strategi kaderisasi. Pembahasan ini mengarah pada perumusan strategi pengelolaan dan pengembangan pesantren yang berkelanjutan.
Dalam materinya, beliau menguraikan berbagai tantangan yang dihadapi pesantren berdasarkan tahapan pertumbuhan kelembagaan. Tantangan tersebut dikelompokkan ke dalam tiga periode, yakni 15 tahun pertama, 15 tahun kedua, dan 15 tahun ketiga. Setiap periode memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri yang perlu diantisipasi oleh pengelola pesantren.
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, terdapat sejumlah aspek strategis yang perlu diperhatikan, di antaranya penguatan kelembagaan, pendanaan, dan kaderisasi.
1. Roadmap Penguatan Kelembagaan Pesantren
Dalam pembahasan penguatan kelembagaan, KH. Anang Rikza Masyhadi mengadaptasi teori siklus hidup organisasi yang dikemukakan Quinn dan Cameron (1983), serta mengintegrasikannya dengan sejumlah teori pertumbuhan organisasi.
Beliau menjelaskan bahwa perjalanan sebuah organisasi, termasuk lembaga pesantren, dapat ditinjau melalui empat tahapan, yaitu Entrepreneurial Stage, Collectivity Stage, Formalization and Control Stage, serta Elaboration of Structure.
Keempat tahapan tersebut menggambarkan perkembangan organisasi sejak masa perintisan, pembentukan kebersamaan dan penguatan internal, hingga tahap formalisasi tata kelola dan pengembangan struktur kelembagaan. Pemahaman terhadap setiap tahapan menjadi salah satu landasan bagi pesantren dalam merencanakan pengembangan organisasi, menyiapkan regenerasi kepemimpinan, serta memperluas kontribusi sosialnya.
2. Khizanatullah: Strategi Pendanaan Pesantren
Aspek pendanaan atau Khizanatullah turut menjadi salah satu pembahasan dalam forum tersebut. Pendanaan memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan operasional dan pengembangan lembaga pendidikan pesantren.
Sejumlah sumber pendanaan yang dipaparkan meliputi swadana, zakat, infak, dan sedekah (ZIS), wakaf, usaha produktif, hibah, serta pinjaman melalui skema wakaf uang berjangka.
Berbagai sumber pendanaan tersebut dapat diarahkan untuk menunjang kebutuhan operasional pendidikan dan pengajaran, pengadaan sarana dan prasarana, serta pengembangan kelembagaan. Diversifikasi sumber pendanaan menjadi salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan pengelola pesantren dalam menjaga keberlanjutan lembaga.
3. Strategi Kaderisasi
Selain penguatan kelembagaan dan pendanaan, kaderisasi menjadi aspek penting dalam menjamin keberlanjutan pesantren. Kaderisasi merupakan investasi jangka panjang untuk mempersiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan kepemimpinan dan menjaga keberlangsungan lembaga, sekaligus meneruskan kontribusinya bagi kemaslahatan umat.
Dalam materinya, KH. Anang Rikza Masyhadi menguraikan beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam strategi kaderisasi, meliputi proses kaderisasi, penentuan profil kader, pengembangan kompetensi keilmuan dan keahlian, serta penyusunan skema kaderisasi.
Beliau juga menekankan empat nilai yang perlu dipegang teguh oleh setiap kader, yakni integritas, loyalitas, totalitas, dan kapasitas. Keempat nilai tersebut dirangkum dalam istilah “4 TAS” sebagai prinsip dalam menyiapkan kader yang mampu menjalankan amanah dan tanggung jawabnya.
Berbagai aspek yang dipaparkan dalam forum tersebut menegaskan pentingnya perencanaan pengembangan organisasi yang disesuaikan dengan tahapan pertumbuhannya. Pesantren sebagai lembaga yang terus berkembang memerlukan penyesuaian dalam tata kelola, pendanaan, dan regenerasi kepemimpinan agar mampu menghadapi tantangan pada masa mendatang.
Dengan demikian, penguatan kelembagaan, pengelolaan pendanaan, dan strategi kaderisasi menjadi bagian dari upaya membangun pesantren yang mampu bertumbuh, beradaptasi, dan mempertahankan keberlanjutannya. (Nd/Nr/Qr)









