Home Galeri Ketika Pesantren Memberikan Ruang Imajinasi: Pagelaran Seni Akbar Arena Gembira

Ketika Pesantren Memberikan Ruang Imajinasi: Pagelaran Seni Akbar Arena Gembira

0
55

Jember-Arena dan Panggung gembira adalah satu dari banyaknya rentetan acara pada pekan perkenalan Khutbatul Arsy. Dimana para santri diberi ruang untuk menyampaikan ekspresi mereka dalam bentuk seni yang didalamnya terdapat nilai-nilai Islam. Ada banyak alasan mengapa Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember selalu menggelar acara Panggung Gembira setiap tahunnya. Salah satunya adalah sebagai syi’ar untuk menunjukkan bahwasannya pesantren tak melahirkan santri-santri yang hanya pandai dalam membaca kitab dan ilmu keagamaan namun juga mampu untuk menyajikan karya yang memukau.

“Imajinasi itu merupakan satu bagian daripada proses belajar. Kalau anak-anak tidak memiliki imajinasi, maka susah untuk kemudian digerakkan,” ujar KH.Izzat Fahd, M.Pd.I. selaku pimpinan pondok yang dimintai sambutan acara. Beliau menyebutkan di dalam pidatonya mengenai salah satu buku yang ditulis oleh Kieran Egan yang membahas tentang imajinasi sebagai bagian penting dari proses belajar anak.

Arena Gembira dan Panggung Gembira merupakan sebuah bukti dimana kehidupan pondok pesantren haruslah tetap berjalan, tidak boleh berhenti dan selalu dinamis. Mengapa demikian? Karena pada saat ini, para santri sedang berada pada usia-usia yang terhitung muda dengan tenaga berlebih serta fisik yang kuat. Dari itu dibutuhkan sarana agar kelebihan tenaga yang dimiliki ini agar dapat diarahkan kepada kegiatan yang benar-benar memberikan makna pendidikan. Dan pada malam 29 Agustus 2026 kemarin, yang menjadi puncak dari rangkaian dari rentetan acara dalam rangka memperkenalkan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember secara apa adanya.

Baca Juga :  Pembangunan Masjid, Trimakasih kepada Seluruh Donatur

Pagelaran Akbar tersebut adalah salah satu dari berbagai jenis hidden curriculum yang tersedia di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember. Sebagaimana cara mendirikan panggung, berlatih untuk menari dan mengolah suara tidaklah diajarkan di dalam bangku kelas. Semua aktivitas yang dilakukan oleh anak ialah kurikulum. Baik antre di kamar mandi hingga menyiapkan seragam untuk esok hari. Pembimbing tidak turun langsung dalam mengurus anak-anak, mereka mengarahkan. Santri tidak diberi nasi agar lekas kenyang, melainkan bibit untuk ditanam. Mereka diberi ilmu dan diarahkan untuk mengaplikasikannya sendiri. Para santri tetap mengaji, beribadah dan membaca kitab. Namun mereka tetap mampu untuk menciptakan sebuah seni yang bermartabat tanpa melewati ambang kebebasan yang sebebas-bebasnya.

Pada malam itu, seluruh santri sekaligus para wali menyaksikan tiap-tiap penampilan dengan khusyu. Setiap dentuman serta sorot lampu dihayati dengan sepenuh hati. Berkali-kali gema tepuk tangan mengalahkan suara sound system yang menggelegar; memberi semangat pada sang penampil serta apresiasi besar. Warna-warni yang mengiringi setiap penampilan membuktikan hasil jeri payah yang harus dialami selama masa latihan. Di depan mata orang tua sendiri dan orang tua teman, rasa grogi kalah oleh antusiasme yang meledak-ledak.

Baca Juga :  LAB IPA: Membuat Produk Pangan Bioteknologi Konvensional, Didik Santri Jadi Ilmuwan

Tidak ada yang perlu melihat seberapa kerasnya latihan dan letih yang mendera. Tidak ada juga yang perlu melihat kekacauan di belakang panggung besar. Satu penampil berlari dari ujung ruangan yang dipenuhi properti menuju ujung lain demi menemukan headpiece yang terselip entah ke mana. Sementara manusia-manusia serba hitam menggotong meja kesana-kemari dengan cekatan. Tidak ada yang perlu melihat itu semua. Cukup dengan penampilan sempurna, setiap tetes keringat terbayar impas. Keterburuan dan kegesitan bukan lagi sebuah kelebihan yang harus diberi tepuk tangan melainkan kewajiban. Anak-anak harus mampu menghitung waktu. Kata-kata, “siapa yang tampil setelah ini? Siapa yang tampil setelah ini?” tidak lagi dapat dihitung dengan jari. Tergopoh-gopoh lalu tersenyum di atas panggung sambil menutupi nafas yang terengah-engah harus dijadikan sahabat baik. Semua itu adalah demi pertunjukan terbaik.(Nd/Nr/Qr)

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here