Keutamaan Menuntut Ilmu di Pondok Pesantren dalam Perspektif Islam

    0
    4

    Jember- Keilmuan adalah salah satu dari banyak aspek yang cukup vital dalam Islam. Kedudukannya yang tinggi menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap proses memperoleh, memahami, dan menjaga kemuliaan ilmu itu sendiri. Maka dari itu, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

    طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

    Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim.

    Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

    Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan penting bagi setiap muslim. Islam senantiasa mendorong umatnya untuk mencari dan mempelajari ilmu. Sebab, sebagaimana kebenaran dapat dibedakan dari kebatilan melalui ilmu, seorang muslim juga memerlukan landasan untuk menentukan sikap dan menjalani kehidupannya. Tanpa ilmu pengetahuan, manusia akan lebih mudah diselimuti keraguan dan kebimbangan dalam menentukan keputusan. Ilmu diturunkan kepada umat manusia laksana pelita di dalam kegelapan; ia mengarahkan manusia untuk melewati kegelapan menuju cahaya sejati.

    Pesantren yang telah dipercaya selama bertahun-tahun oleh masyarakat sebagai salah satu tempat untuk menuntut ilmu memiliki tradisi pendidikan yang khas. Pembelajaran dan pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi berlanjut melalui berbagai rutinitas kehidupan sehari-hari. Pola pendidikan semacam inilah yang membuat proses pembentukan santri di pesantren tidak berhenti pada penguasaan materi, melainkan turut menyentuh cara mereka bersikap dan menjalani kehidupan.

    Kedudukan ilmu yang tinggi juga memberikan pengaruh terhadap diri seseorang yang mencarinya. Hal tersebut termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadalah ayat 11:

    Baca Juga :  TOTALITAS: Begini Cara Santri Manfaatkan Waktu di Pesantren

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, ‘Berdirilah,’ (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

    Ayat tersebut menunjukkan tingginya kedudukan orang-orang yang beriman dan diberi ilmu. Rasulullah SAW juga menjelaskan dalam sejumlah hadis mengenai keutamaan menuntut ilmu dan kemuliaan orang yang menempuh jalan untuk memperolehnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan sarana bagi manusia untuk memahami kehidupan, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

    Bagi sebagian santri, kehidupan pesantren mungkin tidak selalu mudah. Mereka harus menghadapi lingkungan yang berbeda jauh dari kehidupan yang sebelumnya mereka jalani di luar pesantren. Namun, berbagai kesulitan tersebut perlahan dapat dilalui melalui proses pembiasaan. Kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan secara rutin melatih santri sedikit demi sedikit hingga mereka mampu melaksanakan kewajibannya tanpa semata-mata bergantung pada perintah pengurus ataupun rasa takut terhadap konsekuensi dari sebuah pelanggaran. Dari sinilah kesadaran dalam diri santri diharapkan tumbuh, hingga hati nurani mereka mampu mendorong untuk melakukan kewajiban tanpa harus selalu menunggu perintah.

    Baca Juga :  KERJA BAKTI: Pondokku Bersih, Pondokku Sehat

    Dengan demikian, ketika seorang santri menyelesaikan pendidikannya, ia tidak hanya membawa pulang ijazah, tetapi juga membawa buah dari kesabaran, ketabahan, kedisiplinan, dan kelapangan hati yang telah ditempa selama hidup di pesantren.

    Pendidikan yang berlangsung di pesantren hadir dalam bentuk pembelajaran sekaligus pembiasaan. Para santri tidak hanya memperoleh pengetahuan dari guru selama berlangsungnya pembelajaran, kemudian melupakannya setelah keluar dari kelas. Lebih dari itu, mereka dibimbing agar ilmu yang diperoleh dapat terpatri dalam benak dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pendidikan pesantren, ilmu senantiasa berjalan beriringan dengan adab. Keduanya tidak seharusnya dipisahkan ataupun dipertentangkan, sebab ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah, sementara adab membutuhkan ilmu sebagai landasan.

    Dari seluruh proses panjang tersebut, menuntut ilmu tidak lagi sekadar menjadi formalitas pendidikan, tetapi juga mengandung nilai ibadah. Kekuatan pendidikan pesantren tidak hanya bergantung pada banyaknya materi yang diajarkan, melainkan pada bagaimana ilmu tersebut dipahami, dijaga, dan diamalkan sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu individu. Ilmu dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, berkembang mengikuti kebutuhan zaman, dan tetap memiliki relevansi selama nilai-nilai yang menjadi landasannya tetap terjaga.(Nd/Qr)

    PENDAFTARAN SANTRI BARU

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here