Home Catatan 5 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Pemuda Zaman Sekarang

5 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Pemuda Zaman Sekarang

0
159

Jember- Masa muda adalah fase dimana seseorang memiliki banyak semangat, kekuatan, dan kesempatan. Masa ini merupakan titik penting untuk membangun masa depan, membentuk karakter, dan menentukan pilihan hidup. Tapi disaat yang sama, pemuda juga rentan melakukan kesalahan-kesalahan yang terlihat kecil namun berdampak besar dalam jangka panjang.

Muhammad Asadullah dalam bukunya yang berjudul Pemuda Hebat Zaman Milenial menyebutkan bahwa terdapat 5 kesalahan yang sering dilakukan pemuda zaman sekarang, diantaranya:

1. Malas beribadah

Banyak kita dapati pemuda yang masih bermalas-malasan ketika beribadah. Bahkan bisa jadi, kita termasuk golongan tersebut. Menunda shalat, malas mengaji, ataupun menjalankan ibadah lainnya. Padahal Allah Subhanahu WA Ta’ala telah berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56

وَمَا خَلَقْنَا الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan kita diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah SWT., maka sungguh disayangkan apabila masa muda kita dihabiskan untuk bermalas-malasan. Padahal seharusnya, waktu ini menjadi waktu terbaik untuk memperkuat iman dan memperbanyak amal ibadah.

2. Tidak menjadikan Rasulullah sebagai idolanya

Fenomena yang sering kita temui saat ini adalah banyaknya pemuda yang lebih cenderung menjadikan figur publik sebagai idola. Ada yang begitu mengagumi artis baik dalam maupun luar negeri, sampai-sampai hafal biodatanya, update akan aktivitas hariannya, sampai menempel fotonya di dinding kamar.

Ada anggapan bahwa semua itu tidak masalah selagi dalam batas wajar. Namun persoalan itu muncul ketika rasa kagum yang ada lebih besar dibanding kecintaan kepada Rasulullah. Banyak yang mengaku cinta pada Nabi tapi tidak tahu bagaimana sejarah pengorbanan beliau dan tidak berusaha meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari. Ada saja alasan, “Tidak masalah selama tidak berlebihan”. Namun, jika waktu dan perhatian lebih banyak diberikan kepada idola selain nabi, maka siapa sebenarnya yang paling kita cintai?

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hati Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Baca Juga :  Ribuan Hadirin Padati Silaturahmi Akbar dan Peresmian Gedung Auditorium KH. Masykur Abdul Mu'id: Pendiri Pondok yang Bersahaja

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya idola bagi kita. Bukan hanya bagi satu kelompok, tapi untuk seluruh umat manusia, baik dalam urusan agama maupun duniawi.

Rasulullah SAW bersabda:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelak, kita akan berkumpul bersama orang yang kita cintai. Maka, mana yang akan kita pilih, berkumpul dengan nabi atau dengan artis idola kita?

3. Menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Banyak yang berfikir bahwa kesuksesan diukur dari harta, jabatan, dan pencapaian yang dimiliki. Islam tidak melarang umatnya untuk mempunyai semua itu, namun yang keliru adalah ketika kesuksesan dunia dijadikan sebagai garis final, bukan sarana meningkatkan taqwa.

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ۝١٥ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٦

“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka didalamnya dengan sempurna dan mereka di dunia tidak dirugikan. (15) Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, sia-sialah apa yang telah mereka usahakan (di dunia), dan batallah apa yang dahulu selalu mereka kerjakan. (16)” (Hud: 15-16)

Ayat ini menegaskan bahwa siapa yang mencari kehidupan dunia serta seluruh isinya, maka Allah akan memberinya balasan atas apa yang diusahakannya, namun ia tidak mendapatkan bagian di akhirat kelak.

Disinilah pentingnya meluruskan niat. Belajar, bekerja, meraih cita-cita memang diperlukan, namun niatkan semuanya untuk mencari ridho Allah. Jika tidak, maka apa yang diusahakan hanya akan menjadi hasil dunia, tapi tidak untuk akhirat.

4. Berpacaran atau sejenisnya.

Mengapa Islam melarang pacaran? Karena Islam bukan hanya melarang zina, tapi juga hal-hal yang mendekatinya.

وَلَا تَقْرَبُوا الِّزٰنٓى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَ سَاءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)
Ayat ini menjelaskan bahwa mendekati zina saja tidak diperbolehkan, apalagi melakukannya.

Baca Juga :  KULIAH ETIKET: Bimbingan Akhlak Uswah Hasanah Sebelum Perpulangan

Pacaran adalah salah satu bentuk kedekatan yang menjadi pintu awal menuju zina. Chat berlebih, telfon tanpa ada kebutuhan, bisa menjadi kebiasaan yang memutus batasan. Karenanya Islam menutup celah tersebut agar manusia tidak terjerumus dalam dosa.

5. Menjadikan HP sebagai pegangan utama dari pada Al-Qur’an.

Di zaman ini, HP menjadi salah satu alat yang tidak lepas dalam kehidupan sehari-hari. Ia memudahkan kita dalam banyak hal, seperti berkomunikasi, bekerja, belajar, dll. Namun, pernahkah kita berfikir, berapa jam dalam sehari yang kita habiskan untuk bermain HP? Kadang, fitur dan aplikasi yang ada sudah menjadi teman akrab kita, tapi sering kali keakraban kita dengan Al-Qur’an justru tidak ada. Kita tidak bisa menyalahkan keberadaan HP karena memang kehadirannya dibutuhkan, tapi kita harus memilih mana yang sebenarnya menjadi prioritas.

Rasulullah SAW bersabda

اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa al-Qur’an bukan hanya sekedar bacaan, tapi kelak ia akan menjadi sahabat yang akan membantu kita. Bisa dibayangkan apabila kita selalu menghabiskan waktu dengan HP, apakah ia yang akan menemani dan memberi syafaat kepada kita kelak?

Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, nilai-nilai ini bukan hanya sebuah budaya harian, tapi juga pendidikan yang ditanamkan kepada santri. Ibadah, meneladani kepada Rasulullah, meluruskan niat lillahi ta’ala, menjaga pergaulan, serta berinteraksi dengan al-Qur’an merupakan ruh pendidikan pesantren. Lingkungan serta aturan yang dibuat seharusnya dapat menjadi benteng pertahanan agar pemuda tidak terbawa arus zaman. Dengan begitu, pesantren dapat menumbuhkan generasi yang berakhlak, berilmu, serta berorientasi akhirat. Semoga kita semua, khususnya para pemuda dapat beristiqomah dalam kebaikan dan meninggalkan hal-hal yang merugikan, aamiin allahumma aamiin(Ns/Qr)

Referensi:
Asadullah, Muhammad. (t.t.). Pemuda Hebat Zaman Milenial (E-book).

PENDAFTARAN SANTRI BARU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here