Jember- Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung, Jember, menempati posisi yang sangat historis sebagai pondok alumni pertama dari jaringan pesantren alumni Gontor. Hal tersebut disampaikan dalam acara silaturahmi besar dan apel tahunan di lingkungan pesantren.
Kiai Anang menyebut Baitul Arqom sebagai “anak barep” (anak sulung) dari sekitar 1.500 pesantren alumni Gontor di seluruh Indonesia. Menurutnya, Baitul Arqom menjadi rujukan penting bagi pondok-pondok pesantren lainnya, terutama dalam hal ketahanan lintas generasi, keberlangsungan institusi, serta penerapan empat pilar kemandirian pesantren: kemandirian lembaga, kemandirian sistem pendidikan, kemandirian sumber daya manusia, dan kemandirian keuangan.
“Baitul Arqom ini adalah pondok alumni pertama dari pondok alumni Gontor. Baitul Arqom adalah anak barep dari 1.500 adik-adiknya,” ungkap K.H. Anang Rikza Masyhadi dalam pidatonya di Agenda Silaturahmi Keluarga Besar dan Apel Tahunan Pondok Pesantren Baitul Arqom, Jember, Jawa Timur, Minggu (25/10/2026).
Selain itu, Kiai Anang juga menekankan bahwa sistem pendidikan di Baitul Arqom menerapkan model pendidikan holistik berbasis kurikulum 24 jam yang mendidik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (head, heart, hand), sehingga konsisten mencetak kader-kader dan calon pemimpin bangsa yang berkualitas.
Menyambung pernyataan tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, K.H. Izzat Fahd, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas perjalanan panjang dan dedikasi lembaga yang kini telah memasuki usia 67 tahun. Berdiri sejak tahun 1958 dari sebuah petak sawah wakaf seluas 2 hektare, pesantren ini terus berkembang dan bertahan hingga kini mencakup kawasan seluas 16 hektare.
Kiai Izzat menuturkan bahwa dari total kawasan tersebut, 4 hektare difungsikan khusus sebagai kampus pendidikan, sedangkan 12 hektare dikelola secara mandiri sebagai lahan produktif untuk menopang pembiayaan operasional pesantren. Pengelolaan ini menjadi fondasi utama agar lembaga dapat berdiri di atas kaki sendiri dalam mengemban amanah pendidikan.
“Alhamdulillah sampai usia di 67 tahun Pondok Pesantren Baitul Arqom ini, sampai detik ini masih mohon doanya untuk selalu bisa memberikan sumbangsih, memberikan semangat perjuangan kepada anak-anak dalam rangka pendidikan, karena kita melihat bersama bahwa anak-anak ini adalah masa depan kita,” ungkap K.H. Izzat Fahd.
Kiai Izzat juga menegaskan komitmen pesantren untuk terus melangkah maju membawa semangat kegotongroyongan dan keikhlasan dalam mendidik santri tanpa membeda-bedakan latar belakang.
“Melalui pilar kemandirian dan sinergi antarpesantren, Pondok Pesantren Baitul Arqom bertekad untuk terus istiqamah memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan umat dan bangsa,” tegasnya. (*)









